Tags

, ,

Screenshot_2015-05-04-21-55-25-1-1Akhirnya ketemu juga dengan sahabat kecil saya Charles dan makan siang di I-ta Suki Restaurant di FX Sudirman.

Charles adalah anak pertama dari sahabat saya (alm) Victor Marpaung yang menetap di Canberra, Australia. Pria Batak yang besar di Pakanbaru, Riau, yang menguasai Bahasa Batak dan Bahasa Minang ini telah kembali ke pangkuan-Nya 16 Agustus 2011 lalu, meninggalkan seorang isteri dan dua orang anak laki-laki (sekarang Charles 9 tahun dan Andrew 6 tahun).

Saya memanggil Bang Victor dengan Abang, sedang Bang Victor biasa memanggil saya dengan Uda.

Saya dan Bang Victor ketemu di Canberra antara bulan Oktober dan November 2010 yang lalu, kami sering kali melakukan perjalanan bersama-samar, beliau biasanya mengajak Charles (waktu itu masih 5 tahun) ke tempat-tempat wisata di daerah Pantai Selatan New South Wales, Australia, seperti Eden, Comma, Tathra dll.

Sebelum menetap di Canberra Bang Victor pernah tinggal dan malang-melintang di daerah yang saya sebutkan di atas, dalam waktu yang cukup lama (merantau ke Australia sekitar tahun 70-an), bahkan di Tathra Bang Victor ketemu dengan sahabat lamanya sehingga kami sempat ngobrol-ngobrol lama, membiarkan Bang Victor mengingat kembali masa lalunya.

Pernah suatu senja (sekitar pukul 6.30) kami berada di Mount Ainslie, Canberra, bersama Bang Victor dan keluarga,  mobilnya mogok dan mengeluarkan asap karena air radiatornya kering. Namun akhirnya kami masih sempat melihat seluruh kota Canberra dari  ketinggian, mulai dari New Parliement House, maupun Old Parliement House, World Memorial, Canberra City, dan Canberra International Airport.

***

Karena Bang Victor sudah meninggalkan kita semua, sekarang saya menganggap Charles sebagai sahabat kecil saya, Charles sudah lancar ber-Bahasa Indonesia, berkat pengalamannya beberapa bulan tinggal dengan Opungnya di Medan (ketika itu) membuahkan hasil, malahan sekarang Charles sedang belajar Bahasa Jepang serta Mandarin.

***

Oya, sudah hampir 2 minggu Charles dan Maminya berada di Jakarta, kami kesulitan mecocokkan hari pertemuan karena punya kesibukan sendiri-sendiri. Charles dan Maminya setiap hari punya agenda yang padat, ketemu sama keluarga, teman-teman (teman satu kos dan satu kampus) Maminya, dll.

Sampai dengan 11 Mei, Charles berada di Pematang Siantar, Sumatera Utara, kemudian satu hari di Jakarta, sampai 16 Mei berada di Bali, kembali Jakarta untuk mengikuti acara Reunian SMP Maminya, malamnya langsung terbang ke Sydney, lanjut ke Canberra.

Di Canberra, sambil bekerja, Maminya Charles kuliah (lagi) di Jurusan Akuntansi, karena merasa bahwa jurusan S1-nya di Indonesia tidak cocok dengan pekerjaannya sekarang.

Hari itu Charles baru saja membeli seekor Ikan Mas Koki yang dimasukkan ke dalam kantong plastik, kata Charles “Harganya Rp 5.000”. Charles senang sekali dengan ikannya. Padahal ketika sebelumnya saya ajak mancing di kolam pemancingan ga mau….he3x (namanya juga anak kecil).

Charles sangat suka dengan bakso ikan dan dimsum udang atau “Prawn Dumpling,” katanya, tapi kurang menyukai sayur atau jamur, kalau cabe tidak suka sama sekali, bahkan minuman mangga yang dia pesan sendiri tidak jadi diminum karena rasanya “asam dan kecut,” tambahnya lagi, kemudian Charles memesan Lychee Tea.

Hari itu kami ketemu sampai jam setengah 6 sore, kemudian Charles dan maminya lanjut ketemuan lagi di Pusat Pertokoan Sarinah dengan Nino (teman sekolah Charles di Australia) yang sudah pindah ke Jakarta.

Makan Bakmi Gajah Mada (GM) adalah sesuatu yang sangat menyenangkan buat mereka berdua : “Akhirnya rinduku dan rindu Charles terobati juga”, kata Maminya.

Oke, Charles. See you next time……. 🙂