Tags

, , ,

IMG_3863

Sebuah objek wisata yang unik terdapat di Batang Bayang (Sungai Bayang), Kampung Puluik-puluik, Kecamatan Bayang Utara, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, yang disebut dengan Jambatan Aka atau Jembatan Akar.

Selama ini, kita membayangkan sebuah jembatan terbuat dari beton bertulang, baja atau kayu sementara Jembatan Aka terbentuk dari jalinan atau lilitan akar dua buah pohon yang tumbuh berseberangan di kedua sisi Batang Bayang sejak puluhan bahkan mungkin lebih dari seratus tahun yang lalu.

Jembatan Akar ini berukuran panjang sekitar 30m dan lebar 1m, sedangkan tinggi jembatan dari dasar Batang Bayang sekitar 6m, menghubungkan Kampung Puluik-Puluik dengan Kampung Lubuak Silau.

# O ya orang Sumatera Barat biasa menyebut sungai atau kali itu dengan kata Batang#

Kecamatan Bayang berjarak sekitar 70 km atau hampir 2 Jam perjalanan dari Kota Padang, Teluk Bayur, Pantai Taman Nirwana, dan Bungus menuju ke Painan. Kemudin kita harus berbelok ke kiri lagi dengan berbagai view diantaranya bukit yang hijau, sawah dengan padi yang menguning, lambaian pohon kelapa, serta aliran Batang Bayang yang bening.

Masyarakat setempat mengatakan bahwa Jembatan Akar tercipta atas ide seorang tokoh bernama Pakiah Sokan atau Angku Ketek bersama masyarakat sekitar, yang setiap hari melilitkan akar pohon beringin ke bambu yang menjadi penyangga jembatan tsb. Seiring dengan berjalannya waktu, akar-akar kedua pohon tersebut tumbuh dan berkembang, menjadi panjang, besar, lebat dan akhirnya menyatu, sehingga menjelma menjadi sebuah jembatan yang sanggup menahan puluhan orang. Meskipun demikian di salah satu ujung jembatan disusun papan-papan sebagai jalur untuk lewat agar pengunjung tidak kejeblos.

Ketika kami datang, beberapa orang pengunjung sedang duduk-duduk di beberapa bagian jembatan sambil foto-foto, sementara kami berjalan di dekat mereka. Di tengah jembatan mulai terasa ayunannya ata goyangannya, bagi yang takut ketinggian pasti akan teriak-teriak.

Sementara di bawah, di aliran sungainya yang jernih juga banyak pengunjung yang duduk-duduk di atas batu-batu besar yang bertebaran dan menyembul dari permukaan sungai, sedangkan anak-anak mandi dan berenang.

Di beberapa bagian jembatan terlihat akar-akar pohon beringin yang mulai rusak, apakah karena kurangnya perawatan maupun perhatian ? Padahal akar-akar halus pohon beringin yang masih tetap tumbuh dan berkembang menjuntai ke arah bawah masih bisa dililitkan lagi dan menyatu untuk menggantikan akar-akar yang sudah mulai keropos.

Tidak terlihat fasilitas mushalla, toilet, tempat parkir dan pelindung yang layak untuk para pengunjung, buktinya Kevin harus buang air kecil di pinggir sungai karena tidak ada toilet di sekitar jembatan.

Beberapa orang penduduk ada yang berjualan pisang, jagung, bahkan batu akik dari Gunung Jantan bernama Lavender yang berwarna ungu muda, mirip dengan Kecubung dari Kalimantan Selatan.