Tags

, , , , ,

IMG_3931Salah satu daerah tujuan wisata yang ingin saya kunjungi sejak kecil diantaranya adalah Objek Wisata Danau Toba, yang dikenal sebagai danau terbesar di Indonesia.

Padahal saya sudah 3x berkunjung ke Medan, tapi belum pernah menginjakkan kaki di Danau Toba.

Saya bertekad jika suatu saat ada kesempatan ke Medan lagi, saya harus sampai ke Danau Toba. Selama ini saya hanya sampai Brastagi, karena driver mobil sewaan selalu mengatakan : “Danau Toba itu jauh Pak, kalau ada rencana ke sana sebaiknya berangkat lebih pagi”.

Pengalaman tersebut saya gunakan pada saat saya deal sewa kendaraan pada malam sebelumnya, sejak awal sudah saya katakan bahwa saya berencana akan ke Danau Toba, agar datang dan jemput saya pukul 6 pagi.

***

Alhamdulillah pada kunjungan ke-4 ke Medan,Β  akhirnya saya berhasil sampai di Danau Toba, meskipun cuaca sedikit mendung.

Perjalanan kami mulai pukul 6.30 pagi, selama 6 jam kami berjuang dalam perjalanan menuju danau yang diawali dengan melewati jalan-jalan di kota Medan yang cukup padat, bersaing dengan truk, angkutan kota (angkot), kendaraan roda dua serta becak motor (bentor), melewati Tol Amplas – Tanjung Morawa (tarif Rp2.000).

Sepanjang jalan kami melewati deretan kebun kelapa sawit, kebun karet dan kebun singkong.

Terlihat bertandan-tandan buah sawit yang baru panen menumpuk di pinggir–pinggir jalan, yang selanjutya akan diangkut oleh truk ke tempat pengolahannya.

Demikian juga denganΒ  Pohon Karet, kami melihat kelompok-kelompok para penyadap karet sedang mengumpulkan hasil sadapannya, menimbang dan mengangkutnya ke truk.

Tidak kalah serunya adalah Petani Singkong, sebagian besar sedang panen dengan menggali buah singkong yang langsung di lempar ke atas truk.

Tidak heran ketika berangkat maupun pulang kami sering berpapasan dengan truk pengangkut kelapa sawit, getah karet dan singkong.

Beberapa kilometer sebelum sampai ke danau, kami bertemu dengan beberapa kelompok monyet-monyet liar.

***

Sayang kami tidak meng-eksplor sudut-sudut danau atau menyeberang ke Pulau Samosir, meskipun kami bisa menyewa boat yang ditawarkan dengan harga Rp700.000 PP, padahal kalau ferry yang regular hanya berkisar 20.000 per-orang.

Di pinggiran danau saya lihat tidak ada lokasi yang unik untuk menikmati keindahannya, karena dipenuh oleh bangunan-bangunan yang menggangu keindahan danau.

Seandainya Pemeritah Daerah maupun Swasta lebih bersugguh-sungguh menggali potensi wisata di danau ini, saya yakin ekonomi masyarakat sektarnya akan menjadi semakin baik.

***

Karena jam telah menunjukkan pukul 12.30 dan perut juga mulai terasa lapar, kamipun mampir ke salah satu restoran yang di tepi danau.

Lauk favorit saya adalah ikan Pora-Pora yaitu ikan dari perairan Danau Toba dengan ciri-ciri kecil (panjang sekitar 11-an cm), ekor berwarna kuning dan sisik berwarna putih. Ikan Pora-pora enak dan gurih hanya dengan digoreng kering.

Lauk yang lain adalah Taucho Ikan Nila, ikan dari hasil budidaya masyarakat di sekitar danau di dalam keramba.

Demikianlah, setelah makan siang kami meluncur kembali ke Medan, dan sampai sekitar pukul 6 sore.