Tags

, ,

IMG_3724

Danau Tolire terdiri dari Danau Tolire Kecil dan Danau Tolire Besar, terletak di bawah kaki Gunung Gamalama dan tidak jauh dari pantai, apalagi Danau Tolire Kecil posisinya, sangat dekat dari bibir pantai, hanya berjarak sekitar beberapa puluh meter saja.

Menurut teman saya, Danau Tolire Kecil ini sering digunakan oleh Sutan Ternate (Alm.) Drs. Mudaffar Sjah, M.Si. untuk menyalurkan kegemaran beliau memancing.

Sultan Mudaffar Sjah meninggal dunia dalam usia 79 tahun (Lahir 13 April 1935), wafat di RS. Podok Indah, Jakarta Selatan (19 Februari 2015) dan dimakamkan di Ternate. Sultan adalah Anggota DPD-RI asal Provinsi Maluku Utara, dan beliau adalah Sultan Ternate yang ke-47

Jarak antara Danau Tolire Kecil dan Danau Tolire Besar hanya beberapa ratus meter saja. Kami sempat minum air kelapa muda di warung pinggiran Danau Tolire Kecil.

Posisi Danau Tolire Besar lebih tinggi dari Danau Tolire Kecil, dengan lapangan parkir yang cukup luas dilapisi conblock, bersih dan rapi.

Sayang belum tersedia tempat yang lebih tertata untuk para pedagang sehingga enak dipandang, tidak seperti sekarang kesannya kurang teratur.

Siang itu air Danau Tolire Besar berwarna bening kehijauan, indah sekali……

Menurut orang-orang disekitar danau, sampai saat ini tidak seorangpun yang mampu melemparkan batu hingga menyentuh permukaan danau, bagaimanapun kuatnya lemparan tsb. Tapi anehnya beberapa kali saya melempar, saya dapat membuktikan bahwa saya bisa melihat jatuhnya batu menyentuh permukaan danau, meskipun seolah-olah terlihat bahwa jatuhnya batu lemparan saya hanya berjarak sekitar 5 meter dari dinding bagian bawah danau.

Saya membuktikan sendiri, BISA……!!! Siapa bilang tidak ?

Perkiraan saya, fenomena tsb: Pertama, mungkin karena pada dinding bagian bawah danau banyak tanaman liar/ semak-belukar, maka jatuhnya batu yang dilempar pengunjung tidak terlihat; Kedua,Β  mungkin gaya tarik dinding/ tebing danau lebih kuat dari gaya tarik permukaan danau, sehingga batu tertarik ke arah didinding jika melemparnya kurang kuat.

***

Hampir sepuluh tahun yang lalu, saya pernah ke Danau Tolire Besar, sampai di danau menjelang magrib, ketika saya melempar batu memang jatuhnya tidak terlihat. Teman saya waktu itu menceritakan kepercayaan masyarakat bahwa daya magis danau ini masih tinggi, saya merasa ditakut-takuti, sehingga ga berani juga lama-lama di tempat ini, tidak ada pengunjung yang lain, suasana sepi…… !!! Angin bertiup kencang.

***

Anak-anak kecil di pinggir danau, menjual batu-batu kepada pengunjung untuk dilempar, 10 biji seharga Rp10.000 (saya bayar aja, ga mau nawar-nawar). Tapi setelah itu saya berfikir, kalau semua pengunjung membuang batu ke dalam danau, mungkinkah satu saat nanti, danau ini akan menjadi dangkal ?

Advertisements