Tags

, , , ,

IMG_3125

Mesjid Tua Wapaue didirikan oleh Perdana Jamillu, dibangun tahun 1414 Masehi di Wawane, tahun 1614 Masehi dipindahkan oleh Imam Rijalli ke Tehalla (6 km sebelah Timur Wawane) dan tahun 1664 mesjid ini turun (pindah) ke Negeri Atetu (lengkap dengan peralatan ibadahnya).

Demikian yang tertulis disebuah Prasasti di samping Mesjid Tua Wapauwe (atau Wapaue mana yang benar?) di Kecamatan Kaitetu, Kabupaten Maluku Tengah, Propinsi Maluku.

Kisah pada prasasti diperkuat oleh Marbun mesjid menyatakan bahwa mesjid ini pernah berpindah secara gaib dari atas gunung ke tempat yag sekarang.

Bangunan mesjid sederhana ini berukuran 10 x 10m, sedang bangunan tambahannya berukuran sekitar 6 x 5m, berdinding gaba-gaba (pelepah sagu), beratap rumbia (nipah), uniknya konstruksi bangunan induk hanya menggunakan pasak dari kayu (tanpa paku).

Di dalam mesjid tertua di Maluku ini terdapat beberapa peniggalan-peninggalan kuno, sebagai koleksi mesjid, antara lain Kubah Mesjid, Mushaf Alquran (tulisan tangan), Timbangan (dari kayu) dan Anak Timbangan (dari batu dan kapur),  Pintu Utama, Lampu Minyak, tonggak-tonggak kayu maupun balok sebagai tiang penyangga mesjid dll (cerita lengkap tentang Mesjid Tua Wapauwe ada di sini).

Koleksi-koleksi ini terlihat kurang terawat, kurang diperlakukan sebagai barang berharga dan bernilai historis, terutama kertas Mushaf Alquran tulisan tangan yang lama-lama bisa hancur karena kelembaban udara dan perubahan iklim, karena hanya ditempatkan begitu saja di dalam sebuah kotak, seperti berikut ini :

IMG_3135

Mushaf Alquran tulisan tangan

IMG_3128

Kubah Mesjid Tua Wapauwe dengan latar belakang balok dan tiang-tiang penyangga yang sudah diganti dengan yang lebih baru

IMG_3137

Alat Pembakar Kemenyan

IMG_3138

Timbangan Zakat Fitrah dari kayu dan anak timbangan yang terbuat dari campuran batu dan kapur

Menurut cerita driver mobil rental yang pensiunan Pertamina, mengatakan bahwa tidak jauh dari mesjid ini, dahulunya terdapat sebuah gereja tua peninggalan Belanda dan Portugis, namun hancur akibat konflik Ambon tahun 1999 yang lalu. Juga terdapat Benteng Tua bernama “New Amsterdam” yang masih bisa kita saksikan keberadaannya tidak jauh dari Mesjid Tua Wapauwe.

Bapak driver menambahkan bahwa pesaudaraan antara warga berbeda keyakinan di daerah ini begitu kental, terlihat ketika konflik berlangsung, warga yang menganut suatu keyakinan meminta warga keyakinan lain sebaiknya mengungsi untuk sementara ke daerah lain, jika suatu saat situasi memungkinkan warga tersebut dapat kembali lagi ke daerah ini.

Sebagian besar warga semakin sadar, bahwa konflik dapat merugikan kedua belah pihak, hanya memberi  keuntungan kepada kelompok-kelompok tertentu yang “menangguk di air keruh”.

“Kembali ke sistem kekerabatan dan sosial dalam budaya ‘Pela Gandong‘ yaitu sistem kekerabatan yang melibatkan dua atau lebih daerah yang saling mengangkat saudara satu sama lain tanpa melihat perbedaan keyakinan, wajib dilakukan dalam kehidupan sehari-hari di Maluku, merupakan yang terbaik….. !!!” beliau menambahkan.

IMG_3149

Ruang Utama dengan latar belakang tempat Imam, dan Mimbar Khotbah

IMG_3157

Marbun Mesjid Wapauwe

 

 

 

Advertisements