Tags

,

20150204_200624

Malam itu, kami mau kembali ke hotel dan sekalian pamitan dengan Semi (sahabat saya yang tinggal di Ambon), karena pukul 8 besok pagi, kami akan kembali ke Jakarta.

Semi menawarkan agar kami bersedia membawa Buah Alpukat dari kebunnya sendiri.

Semi minta tolong kepada adiknya agar membantu memetik buah tersebut di rumahnya. Tapi karena sudah kemalaman, saya bilang agar alpukatnya diantar ke hotel saja besok pagi, dan ga usah banyak-banyak, cukup 5 buah saja untuk kami berdua.

Soalnya alpukat kan beraaat…..!!!

#Saya tau alpukat di Ambon besar-besar#

Karena siangnya, kami sudah mendapat oleh-oleh Bahan Batu Akik Hajar Jahanam, Badar Besi, Bacan Lumut, dan Bacan Merah di pasar kawasan Tugu Trikora Ambon.

Nah, itu juga berat. Namanya juga bongkahan batu…. he3 πŸ˜€

***

Pukul 05.30 Semi sudah sampai di Hotel Manise, membawakan 5 buah Alpukat “raksasa” yang saya bagi sama sahabat saya Troes, buat saya 2 buah dan buat Troes 3 buah.

Sampai di Jakarta, alpukat tersebut saya simpan di tempat penyimpanan beras. Hari kedua di tempat penyimpanan, salah satu dari alpukat tsb matang.

Astagfirullaaah….!!!

Ketika alpukatnya dibelah, benar-benar mantap….!!!, daging buahnya tebal, berwarna hijau segar ke kuningan. Bahkan bijinya yang sangat kecil dan agak panjang tidak sebanding dengan besar buah dan ketebalan daging buahnya.

20150204_200701

Saya hanya menaburkan sedikit gula pasir agar ada rasa manisnya, meskipun sebetulnya tidak ditambahpun alpukatnya sudah lezat dan nikmat.

Tinggal diaduk sekedarnya, terus siap untuk disikat…..!!! Tapi saya tak sanggup makan sendiri, bisa “klenger”, saya makan bertiga dengan istri dan anak, bahkan alpukat yang satu lagi, makannya berempat.

Mungkin ini yang dikatakan dengan jenis alpukat mentega (berwarna kekuningan seperti mentega), kandungan airnya sedikit, jadi terasa kental dan legit di mulut, seperti ada lemaknya.

20150204_200935-1

***

Cita rasa Alpukat Ambon sepertinya sama lezatnya dengan Alpukat Papua, namun alpukat Papua berbeda pada ukuran biji dan bentuk bijinya. lebih besar dan bulat.

Sebagai cerita tambahan, ketika saya berada di Manokwari, Papua Barat akhir tahun 2014 yang lalu, kami membeli alpukat di Pasar Wosi untuk dibawa ke Jakarta. Satu “onggok” alpukat (isi 5 buah) harganya Rp50.000

Mama….!!!, alpukat harganya berapa?

Mama Pedagang : “50ribu…!!!

Teman saya iseng bertanya, meskipun sudah tau bahwa “Mama-mama Pedagang” di Tanah Papua,Β  pasti tidak akan bergeming.

Mama, alpukatnya bisa kurang ga?” Si Mama diam saja……

“Berapa Mama?, ” teman saya menanyakan lagi.

“50 ribu…!!!” Si Mama menjawab tanpa ekspresi.

Finally….., kami membeli 2 onggok untuk berdua.

***

Menurut saya lezatnya Alpukat Papua dan Alpukat Ambon tiada tara. Tapi kenapa ya, masyarakat di kedua daerah tsb kurang menyukai Alpukat, begitu juga Sawo dan Kedondong. Buah-buah selezat itu kurang dihargai, sepertinya dibuang-buang saja.

O ya, satu lagi buah yang menggiurkan di Ambon dan Jayapura adalah durian

Saya sudah makan durian di Ambon dan Papua.

Nikmaaaat ….!!!, daging buah duriannya terasa kering dan legit, bijinya kecil.

Menurut teman kami Semi, justeru lebih enak lagi durian Ambon, karena durian yang saat itu lagi musim adalah durian dari Pulau Seram. Kata Semi, kalau durian dibawa menyeberang laut rasanya beda. Misalnya durian Pulau Seram, lebih enak klo kita makan di pulau tsb.

Sementara durian yang kami makan di Ambon ini adalah Durian dari Pulau Seram.

Wah, durian yang ini bagi saya sudah “uenak tenan”, apalagi durian dari Ambon. Kata Semi, durian Ambon akan panen antara satu atau dua bulan kedepan (sekitar Maret atau April).

Wow…. apakah saya harus ke Ambon lagi? di bulan Maret atau April ?

He3 ini saja sudah yang kedua kalinya sampai di Ambon πŸ™‚

20150204_200544