Tags

, ,

Sejak Akhir Tahun 2013 yang lalu, kendaraan yang lewat Jalan Raya Alternatif Cibubur (Transyogi)  yaitu kendaraan yang berasal dari kawasan Cileungsi, Cikeas, atau Jonggol menuju Jakarta sudah dapat melewati terowongan (underpass) Cibubur, kemudian bisa  langsung masuk ke pintu tol Cibubur.

Padahal sebelumnya kendaraan-kendaraan tsb harus melewati Mall Cibubur Junction, dimana kemacetan sering terjadi akibat pertemuan arus lalu lintas dari Jakarta yang akan ke Cimanggis dan dari Cibubur.

Kemacetan akan semakin parah, pada hari-hari libur akhir pekan, Sabtu atau Minggu…!!! Kemacetan bisa “mengular” sejak dari kawasan Cibubur hingga pintu tol Cibubur yang mengarah ke Jagorawi, sehingga para pengendara harus antri cukup panjang karena padatnya kendaraan.

Dengan semakin meningkatnya jumlah pemilik kendaraan di Cibubur dan sekitarnya, maka underpass ini diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk mengatasi kemacetan di kawasan ini.

***

Karena, saya mau ke Pondok Indah Mall (PIM), maka saya harus keluar di Pintu Tol Pondok Indah menuju Tol T.B. Simatupang.

Seperti biasa, pintu keluar tol Pondok Indah cukup padat, kami menggunakan salah satu jalur Gardu Tol Otomatis (GTO) dari dua jalur GTO yang tersedia di pintu tersebut.

e-toll dapat digunakan sebagai alat pembayaran tol secara non-tunai yang praktis mudah dan cepat.

e-toll  ternyata bermacam-macam, ada e-money, e-toll Pass, e-tol Card, Kartu Flazz, Mega Cash mungkin banyak lagi yang lain. 

Sedangkan yang saya punya adalah e-money, biasa saya gunakan hanya di GTO. 

Namun penggunaan e-toll ini sangat membingungkan, pasalnya saya pernah ditolak karena masuk di salah satu pintu tol otomatis di Cengkareng. Padahal harusnya kartu e-toll apapun, bisa digunakan di pintu tol manapun juga….!!!

Sudahlah….!!! Runyam…!!!

***

Di depan kami hanya ada dua kendaraan di jalur “biasa”, sementara di sebelah kiri/ kanan kami penuh dengan kendaraan yang antri.

Tiba-tiba sebelum masuk ke jalur GTO satu kendaraan di bagian depan, langsung ambil jalur ke kiri (jalur biasa), mungkin memang tidak punya kartu GTO tetapi ingin mau menerobos (nyelak) antrian. Sementara kendaraan Avanza (berplat nomor D) di depan saya tetap melaju dengan tenang menuju Mesin GTO, kami mengiringinya pelan-pelan di belakang, diikuti oleh dua kendaraan lain setelah kami.

Sesampainya di Mesin GTO, pengemudi   Avanza beserta penumpang (kelihatan seperti rombongan Ibu-ibu pengajian) “celingukan” seperti orang kebingungan, membuka kaca lihat kanan kiri dan lihat belakang, melambai-lambai, namun tidak satupun petugas yang memperhatikan.

Saya menduga pasti Avanza tersebut tidak punya Kartu GTO, saya biarkan beberapa saat, sementara mobil di belakang saya sudah mulai tidak sabaran dan membunyikan klakson…

Akhirnya saya turun dari kendaraan dengan membawa kartu GTO (yang saya punya), dari pada kelamaan, lebih baik saya bantu saja mereka.

Saya dekatkan Kartu tsb ke Mesin GTO, sementara driver dan semua penumpang memperhatikan apa yang saya lakukan, kemudian dengan serta merta  “Tiang Penghalang  Pintu Tol” segera terangkat. Driver dan penumpang, lega dan terlihat senang, sehiingga Avanza bisa keluar dari kepanikan.

Dan…..dengan serta merta pula mobil dan penumpang  itu langsung tancap gas, melaju dengan kencang,tanpa sepatah katapun ucapan terima kasih dari mulut mereka.….!!!

Anak-anak saya protes “Kok orang itu begitu ya Pa, ga punya rasa terima kasih? Padahal sudah dibantu ?” 

Saya bingung menjawabnya, karena saya selalu mengajarkan kepada anak-anak “Sudah selayaknya kita mengucapkan terima kasih kalau diperlakukan dengan baik oleh seseorang, atau merasa mendapat bantuan dari orang lain”.

Sekarang, di alam nyata, mereka melihat, menyaksikan dan merasakan hal yang bertolak belakang dengan apa yang saya ajarkan itu…!!!

Meskipun, sebetulnya Avanza tsb bisa menepi dan berhenti sejenak atau memperlambat kendaraannya sambil melambaikan tangan, sebagai pertanda ucapan terima kasih.

Itupun sudah cukup, tidak perlu juga dengan mengembalikan biaya tol yang dipakainya…!!!

Advertisements