Tags

, , , , , , , ,

Karena membaca postingan dari Noni Khairani si Nyonya Sepatu di sini, Pak Budi Rahardjo dengan Padepokan Budi Rahardjo-ya di sini, apalagi pegalaman di Catatanku Rinaldi Munir di sini (yang nyaris sama dengan pengalaman saya), karena di besarkan di kota yang sama, bahkan SMP yang sama, walaupun beda angkatan.

Saya menjadi tertarik membuat tulisan yang sama, tentang kenangan masa kecil ketika bulan puasa tiba sampai suasana hari lebaran.

Beberapa hal yang dapat saya ingat (karena ada kenangan manis di situ), antara lain adalah :

Balimau. Balimau adalah sebuah tradisi turun temurun di Sumatera Barat yaitu membersihkan diri dalam memasuki bulan suci Ramadhan dengan mandi di sungai, danau atau bisa juga di rumah.

Mandi mensucikan diri menggunakan jeruk nipis (limau) dan  ramuan alami (bunga dan daun) beraroma wangi seperti daun pandan, bunga melati, kenanga, cempaka dll yang direndam ke dalam air hangat, kemudian dioleskan ke kepala. Terakhir, untuk praktisnya bisa juga menggunakan shampo.

Tempat favorit dan banyak di kunjungi (di sekitar Kota Padang) : Sungai Lubuk Minturun, Batang Kalawi, dan Lubuk Paraku

Menu Favorit. Sehari sebelum puasa, Nenek dan Ibu atau keluarga-keluarga lain sibuk membuat Rendang dan Pangek Padeh Ambu-ambu (Tongkol) sebagai menu penting di bulan Ramadhan, terutama rendang karena bisa disimpan dalam waktu lama.

Menu hari-hari berikutnya adalah Dendeng Balado, Sop Daging, Serundeng, Pangek Masin Ambu-ambu dan macam-macam ikan, Gulai Daun Singkong/Nangka/Kacang Panjang/Buncis, dan Sayur Tumis Kangkung, sedangkan lalapan yang dikenal hanya timun, kol atau terong ungu.
O ya, masakan-masakan tersebut (Rendang, Pangek, Dendeng) biasanya juga diantarkan kepada Nenek (orang tua dari Bapak atau Bako) sebagai Pabukoan yang merupakan tradisi dan kebiasaan masyarakat Sumatera Barat, ditambah dengan Panggang Ayam dan Lamang Tapai. Tradisi ini juga dilakukan ketika menyambut Hari Raya Idul Fitri.

Baca Komik. Kegiatan membaca komik dengan harapan agar anak-anak lupa dengan rasa lapar, bisa sewa dan dibawa pulang atau baca di tempat.

Saya biasa sewa/baca komik di sebuah warung di Simpang Haru, atau tempat favorit lain yang selalu ramai dan penuh setiap bulan Ramadhan dari pagi sampai sore adalah di Lantai 2 Gedung Bioskop Padang Theatre di Komplek Pertokoan Pasar Raya Padang. Bahkan ada teman SD/SMP saya yang sampai sekarang menghidupi keluarganya dengan berbisnis Warung Komik ini (melanjutkan usaha orang tuanya almarhum).

Pengarang Komik Favorit : Teguh, Ganes TH, Jan Mintaraga, Yonky, Yanthi, Asmaraman Kho Ping Hoo dll

Komik Favorit : Komik silat seperti Si Buta dari Gua Hantu, Dewi Mata Iblis, Iblis Gua Siluman, Pendekar dari Gunung Es, Pendekar Sadis dll. (Judulnya serem ya)

Penjual Es Batu. Setiap bulan Ramadhan tiba, bermunculan para penjual es batu di warung-warung maupun depan rumah di pinggir jalan. Es Batu tersebut biasanya ditutupi dengan serbuk kulit padi agar tahan lama (tidak cepat lumer).

O ya, waktu itu belum ada Kulkas. Kalaupun ada, tapi belum banyak digunakan

Sirine. Sebagian besar warga kota menjadikan sirine sebagai pertanda waktu berbuka puasa telah tiba, maklum Padang saat itu belum seluas sekarang. Sumber bunyi sirine berasal dari Stasiun Pusat Kereta Api di Simpang Haru Padang.

Mungkin karena saat itu belum ada TV….!!!

Menurut nenek saya, sirine tersebut adalah peninggalan Zaman Penjajahan Belanda, saya belum dapat info apakah alat ini masih berfungsi sampai sekarang?

Menu Berbuka (Takjil). Makanan/minuman yang sering disediakan untuk menu berbuka adalah Es Cincau, Teh Manis Hangat/Dingin, Es Cendol, Es Timun Serut, Kolak pisang/singkong/kundua (labu kuning), Biji Salak, Goreng Pisang/Singkong, Bubur Ketan Hitam, Lamang Tapai dll.

Semua makanan/minuman tersebut dibuat sendiri oleh nenek dan ibu, tidak ada yang beli jadi (kecuali bahan-bahannya). Sedangkan lamang beserta tapainya biasa dapat kiriman (dikasih) keluarga lain atau tetangga.

Meriam Bambu. Permainan ini sudah dipersiapkan sebelum puasa dimulai. Mencari bambu kemudian dilubangi, diisi kain yang disiram minyak tanah, bahkan ada yang diisi karbit supaya ledakannya lebih dahsyat.

Biasanya setelah berbuka kami buru-buru bermain meriam ini sampai waktu shalat Isya datang dan akan disambung kembali sepulangnya dari mesjid.

Cara membunyikannnya, api dimasukkan ke dalam lubang bambu sehingga menimbulkan dentuman, dan setelah berdentum, bambu harus ditiup untuk mengeluarkan asapya, kemudian bambunya dilap/dibersihkan kalau ada lelehan minyaknya. Akibatnya ada anak-anak yang bulu mata/hidung bahkan rambutnya ikut gosong karena hawa panas yang keluar dari bambu, meskipun tidak sampai jatuh korban.

Tentu saja permain ini sangat menggangu ketenangan warga, sehingga kami sering ditegur. Makanya tempat bermain meriam bambu biasanya jauh dari perumahan, seperti di kebun-kebun atau di lapangan, walaupun demikian dentumannya yang bersahut-sahutan, tetap saja sampai kemana-mana dan .

Pisau dari Paku. Karena tempat kami dilewati oleh jalur kereta api, kebiasaan anak-anak adalah membuat pisau dari paku berukuran besar dengan dilindas oleh roda kereta.

Paku tersebut diletakkan di atas rel sebelum kereta lewat (kami mengetahui kereta akan lewat dengan cara mendekatkan telinga ke atas permukaan rel).

Lucunya, kami (maaf) meludahi paku tersebut dengan harapan supaya lengket dan tidak jatuh ketika dilindas kereta.

Menunggu kereta lewat dan menyaksikan dari pinggir rel, paku masing-masing dilindas roda kereta dan mendapatkan hasilnya berbentuk besi gepeng yang bisa dijadikan pisau adalah suatu hal yang menyenangkan bagi kami. Paku Gepeng tersebut kemudian kami asah agar tajam untuk dijadikan pisau.

Sahur. Kami selalu dibangunkan nenek antara pukul 1 s/d 1.30 untuk makan sahur, karena kata nenek “takut kesiangan dan keburu imsak, lebih baik kecepatan daripada ga sahur sama sekali”. Padahal imsak di Padang  sekitar 4.20.

Bayangkan waktu kecil, kami berpuasa hampir selama 17 jam sehari,  dari pukul 2 dinihari sampai pukul 18.30 (karena waktu berbuka kadang2 lewat dari pk 18.30).

Padahal anak-anak sekarang baru dibangunkan sekitar 4.15, kemudian makan sahur dan pukul 4.42 imsak, sedangkan berbukanya pk 17.52. Jadi waktu menahan hanya sekitar 13 jam, singkat sekali apabila dibandingkan dengan kami (anak-anak) jaman dulu, mencapai 17 jam.

Cambuang dan Kampia. Sebelum tidur Nenek/Ibu masak nasi terlebih dahulu, kemudian disimpan dalam suatu tempat dari kaca berbentuk oval dan permukaannya cembung. Tempat ini namanya Cambuang.

Ada juga yang menyimpan nasi di dalam Kampia, yaitu dompet besar yang dianyam, dari bahan mansiang.

Ketika itu belum ada Rice Cooker/Magic Jar/Magic Com sebagai alat penanak dan penghangat nasi, maka Cambuang/Kampia Nasi tsb dibungkus/dibalut dengan selimut tebal  untuk mempertahankan agar nasi tetap panas sampai waktu makan sahur datang.

Asmara Subuh. Kegiatan positifnya adalah shalat dan mendengar ceramah Subuh di Mesjid, kemudian jalan kaki menuju Pantai Padang sambil olah aga pagi (meskipun mencapai 5 s/d 6 km), dengan tetap berpakaian lengkap seperti biasa ke mesjid, pakai sarung untuk pria dan sarung/mukena untuk perempuan. Sedangkan kegiatan negatifnya adalah, anak-anak muda minta izin ke mesjid, padahal mereka langsung ke pantai bahkan dengan pasangan masing-masing, inilah yang dinamakan dengan Asmara Subuh.

Lilin dan Kembang Api. Di awal puasa Bapak sudah membelikan kami (anak-anak) lilin dan kembang api, yang kami simpan masing-masing untuk digunakan (dibakar) pada malam puasa hari ke-27 (malam 27).

Malam 27. Menyalakan lilin dan kembang api ketika malam ke-27 bulan Ramadhan mempunyai kenangan tersendiri bagi kami, karena menjadi malam yang dinanti-nantikan anak-anak. Pada malam itu (setelah selesai berbuka), hampir setiap rumah menyalakan lilin di sepanjang teras/pagar rumah, bahkan sampai ke atas pohon.

Sangat menakjubkan……, indah sekali …!!!

Biasanya, malam itu anak laki-laki berjalan berkelompok keliling kampung, membawa mobil-mobilan yang sudah dibuat sebelumya. Roda mobil-mobilan tsb dibuat dari sendal karet bekas yang dibulatkan, sedangkan kerangkanya dari bambu yang diraut dan diikat karet, di atasny ditempelkan kaleng sebagai tempat lilin sebagai lampu mobil.

Shalat Tarawih. Ramai-ramai ke mesjid untuk shalat tarawih adalah suatu kegiatan yang sangat menyenangkan bagi kami. Tapi sayangnya sebagian besar anak-anak (terutama anak laki-laki) lebih senang bermain dan bahkan berlarian sehingga menggangu kekhusukkan para orang tua dalam beribadah. Biasanya ada seorang pengurus mesjid yang ditakuti dan dihindari oleh anak-anak, biasanya beliau akan memarahi anak-anak jika sudah keterlaluan. Tapi besoknya tetap saja peristiwa itu terulang lagi, begitu lagi, begitu lagi……!!!

Membantu Buat Kue. Mendekati lebaran oang tua mulai sibuk mempersipkan kue-kue kering, tugas kami anak-anak adalah membantu menumbuk beras, diayak (saring) menjadi tepung dan menjemurnya di bawah terik matahari. Membantu mengaduk adonan, menggilingnya menggunakan kayu bulat panjang, membentuknya dengan cetakan, menyusun kue-kue yang akan dibakar serta membakarnya menggunakan oven sederhana. (he3…bukan microwave seperti sekarang).

Kegiatan ini bisa berlangsung sampai malam hari (hanya berhenti waktu shalat dan tarawih)

Kue favorit : Kue Semprit, Kue Dakak-dakak (Angka 8), Kacang Taujin (kacang Bawang), Kacang Telur, Kue Bawang, Kue Kembang Loyang dan Kue Arai Pinang.

Memecahkan Celengan. Saatnya tiba, melakukan persiapan lebaran. Kami biasanya ditemani nenek untuk membeli pakaian/sepatu lebaran, sedangkan untuk celana biasanya beli bahan, kemudian dijahit di tukang jahit.

Kami memecahkan celengan dan menghitung jumlah uang yang tersimpan, biasanya masing-masing sekitar 50 s/d 75 ribu, biasanya akan dicukupi oleh orang tua kalau uangnya kurang.

Malam Takbiran. Kegiatan pada malam takbiran adalah membantu Ibu mengganti gorden, taplak meja dan membersihkan perabotan.

Sementara Nenek melanjutkan membuat makanan/lontong untuk dimakan setelah selesai Shalat Idul Fitri besok harinya.

Shalat Idul Fitri. Pagi-pagi pukul setengah 6 kami sudah melakukan persiapan untuk Shalat Idul Fitri di Lapangan Dodiklat Simpang Haru (jarak sekitar 1,5 s/d 2 km dari rumah kami). Supaya tidak terburu-buru dan kebagian tempat, biasanya saya datang lebih awal dan membentangkan beberapa sajadah terlebih dahulu, baru keluarga yang lain menyusul.

Menambang. Kegiatan ini dilakukan anak-anak setiap Hari Raya Idul Fitri, yaitu datang ke rumah tetangga atau keluarga, bahkan ada yang berkunjung ke orang yang tidak dikenalnya, mengharapkan agar dikasih uang (receh).

Namanya juga anak kecil 🙂

***

Demikianlah beberapa kenangan selama menjalankan puasa Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, yang masih saya ingat ketika masa kecil dulu. Mudah-mudahaan bermanfaat buat kita semua.