Tags

, , , , , , , ,

Beberapa hari yang lalu, anak saya Thalita (10) mengeluhkan telinganya terasa agak sakit, katanya waktu dalam perjalanan kami ke Bandung, memasukkan jarinya ke telinga karena merasa gatal.

“Habis, aku nyari cotton bud kan ga ada,” katanya.

Singkat cerita, malamnya Thalita saya bawa ke dokter Spesialis THT (Telinga Hidung dan Mulut), dokternya kebetulan seorang wanita muda umur sekitar 30 s/d 35 tahun, yang jelas pasti pintar.
Hebatnya sekarang dokter-dokter ahli didukung oleh peralatan dan teknologi kedokteran yang canggih.
Dari peralatan yang digunakan, kayaknya dokter tersebut memakai yang namanya Digital Otoscope yaitu alat yang berfungsi untuk melihat bagian dalam telinga atau rongga tubuh lainnya. Mempunyai ujung berkamera berukuran sangat kecil, terkoneksi dengan laptop atau LED TV. Ujung kamera dilengkapi dengan lampu LED sebagai penerang, sehingga bisa melihat dalam keadaan gelap (selengkapnya ada di sini).

Saya masih ingat sekitar dua atau tiga tahun yang lalu dokter spesialis THT di suatu rumah sakit, masih menggunakan Otoscope yang manual.

Nah, sekarang semua bisa dilihat di Laptop atau layar TV Monitor. Ibu dokter tersebut dapat memindahkan arah kameranya ke rongga telinga kiri dan kanan serta rongga hidung. Sambil menyampaikan diagnosanya bahwa telinga Thalita terlihat suram, dan bakteri baik yang bertugas melindungi telinga dari infeksi justeru berbalik menginfeksi telinganya. Sementara di rongga hidung terlihat ada tulang yang agak bengkok ke arah dalam sehingga akan menghalangi pernafasan. Disarankan jika pada saat masa pertumbuhan Thalita sudah berhenti, agar dilakukan operasi untuk merekonstruksi tulang hidung yang bengkok tersebut.

Wah….!!!! parah dong sakitnya sampai batang hidung Thalita harus operasi segala? ” saya membatin.

Dari dokter tersebut Thalita mendapatkan obat :

  1. Dexyclav Forte sebagai antibiotik, 3x sehari, disimpan di lemari pendingin dan harus dihabiskan.
  2. Mucopet sebagai obat batuk, 3x sehari.
  3. Rhinos Junior sebagai obat flu dan pilek, 3x sehari.
  4. BNS (Breathy Nasal Spray) sebagai obat yang disemprotkan ke hidung, 2x sehari yaitu malam sebelum tidur dan Β pagi sebelum berangkat ke sekolah. Juga perlu disemprotkan pada saat naik tangga dll.

Disarankan supaya BNS dipakai selama 6 bulan…!!!

Berolahraga teratur antara pukul 7 dan 8 pada saat matahari bersinar cerah, kalau perlu pakai baju yang sedikit terbuka alias “you can see“.

Untuk biaya dokter spesialis THT dan pembelian obat, saya mengeluarkan Rp. 684.900,-

***

Dua hari berikutnya kami ada keperluan ke tempat praktek dokter langganan keluarga sejak puluhan yang lalu (sejak isteri saya masih kecil sampai saat ini Kevin 15 tahun dan Thalita 10 tahun) yaitu dr. Sugito Wonodirekso, M.S (saking dekatnya beliau biasa kami panggil dengan Om Sugito atau Om Gito saja) sebagai “Second Opinion”.

Oh ya, kurang lebih sejak setahun yang lalu, beliau pindah ke tempat praktek yang baru di daerah Pondok Indah.

Kami membawa obat-obat yang dikonsumsi Thalita dua hari terakhir.

Dr. Soegito mengatakan : “Hentikan semua obat-obat itu, anakmu tidak sakit. Bukankah, saat itu badannya tidak panas, dari dulu saya juga tidak pernah memberikan antibiotik kalau anakmu tidak panas. Saya juga pernah bilang, kalau keluhannya hanya seperti itu, kamu beri anakmu air hangat terus suruh istirahat, jangan minum-minuman dingin, makanan berpengawet dan berbumbu tajam seperti chiki dan sejenisnya, mi instan dll. Nanti antibodynya akan bekerja….!!!”

He3 ….. benar juga dugaan saya ketika mendengar keterangan dokter spesialis THT yang saya ceritakan di atas dan menerima obat yang diberikan “kalau saya konsultasi dan menceritakan kejadian di atas kepada Om Gito pasti akan diketawain”

Memang selama ini, Om Gito tidak pernah memberi antibiotik kalau badan anak-anak tidak panas, biasanya hanya disuruh minum air hangat atau kumur-kumur dengan cairan pembersih mulut jika mengalami radang tenggorokan. Paling banter di kasih vitamin “murahan” Multi Vitaplex untuk menambah daya tahan tubuhnya.

Kenapa saya katakan vitamin murahan ? karena sulit ditemukan di apotik-apotik besar dan terkenal, harganya pun murah (sekitar 30 atau 35rb untuk 100 butir) dengan dosis yang tidak tinggi tapi cukup dan aman untuk tubuh kita.

Mungkin itulah perbedaan dokter di Abad 21 dengan dokter yang dihasilkan pada masa sebelumnya. Di abad 21 para dokter banyak dibantu oleh berbagai teknologi sehingga seolah-olah semua penyakit itu mengerikan, padahal penanganannya dapat dilakukan hanya dengan cara yang sederhana.

Jangan lupa Second Opinion is very important…!!!