Tags

, , , , ,

IMG_0823Pesawat yang akan membawa kami kembali ke Jakarta dijadwalkan berangkat pada pukul 14.00 WIT.

Waktu dari Grand Abe Hotel, Abepura tempat kami menginap sejak dua hari yang lalu, ke Bandara Sentani tidak sampai satu jam.

 

Sedangkan saat itu jam baru menunjukkan pukul 11 siang, kami segera berkemas karena teman yang akan mengantar kami ke Bandara sudah menunggu di Lobby hotel.

Meskipun waktu untuk ke Bandara masih terlalu pagi, namun kelebihan waktu tersebut dapat kami manfaatkan untuk mencari lukisan dari bahan dasar kayu yang masih kurang, karena yang kami beli di Pasar Hamadi (pusat penjualan souvenir khas Papua) sehari sebelumnya kekecilan, sedangkan kami ingin yang ukurannya lebih besar sekitar 100 x 60 cm.

Nah, di Jalan Raya Sentani terdapat sebuah Rumah Seni “Niko” yang menjual macam-macam kerajinan tangan Papua. Di sini saya menemukan lukisan bemotif kepala suku, kebetulan yang ada hanya  motif tsb dan yang lainnya motif alam.

Kami melanjutkan perjalanan menelusuri tepian Danau Sentani, tidak lupa mampir untuk ambil foto view Danau dengan pulau-pulau kecil yang bertebaran di sana. Di sisi lain saya juga melihat masih cukup banyak Pohon Rumbia atau Pohon Sagu yang bisa diolah oleh Suku Sentani menjadi tepung sagu, sebagai bahan utama makanan  sehari-hari. Biasanya dapat disantap dalam bentuk Papeda.

Kami mampir ke sebuah rumah makan Yougwa Restaurant, diantara beberapa restoran yang terdapat di pinggiran danau.
Menu istmewanya adalah Ikan Gabus dan Ikan Mujair, Sayur Kangkung Bunga Pepaya dengan minuman Perasan Jeruk Nipis Hangat.

Ikan Gabus dengan dagingnya yang tebal, digoreng tepung terus dikasih cabe, kemudian Ikan Mujair yang satu diwoku dan yang satu lagi hanya digoreng kering, karena ukurannya lebih besar dan cara mengolahnya yang ok, sehingga tulangnya sampai kepalanya terasa garing, ludes dibantai teman saya.

Makan siang kami ditemani oleh hembusan angin danau, hempasan ombak dan riak-riak kecil. Di sekitar tempat makan kami banyak berkerumun ikan-ikan kecil yang pada awalnya saya kira adalah daun gugur yang jatuh ke danau, ternyata ikan-ikan kecil mirip daun karena ukurannya sebesar daun-daun yang berguguran itu.

IMG_0818

Ikan Mujair Woku

IMG_0819

Ikan Gabus Balado

IMG_0821

Ikan Mujair Goreng Kering

IMG_0820

Sayur Kangkung Bunga Pepaya

IMG_0797

Yougwa Restaurant

IMG_0798

IMG_0800

IMG_0802

 

IMG_0803

IMG_0810

IMG_0811

Alhamdulilah, kami masih bisa menikmati hidup dengan lezatnya ikan danau, bukan ikan laut yang selama seminggu terakhir kami makan mulai sarapan pagi, makan siang sampai makan malam, baik di Manokwari maupun di Jayapura.
Ikan…ikan dan ikan…. yang sudah pasti segar dan baru, tidak seperti di Jakata.

Ikan di Jakarta, “Sudah mati tujuh kali,” kata teman saya. Karena membutuhkan waktu yang lama, untuk sampai ke konsumen. Berbeda dengan ayam potong di Papua, kata teman saya lagi : “Ayam potong di Papua, matinya lebih lama dari hidupnya”.

Biasanya ayam potong di Papua pasokannya dari Jakarta atau Surabaya, sementara umur ayam potong hanya antara 30 s/d 40 hari. Setelah dipotong terus dikemas dikirim ke Papua dengan kapal, perjalanannya sampai ke tangan konsumen memakan waktu sampai tiga bulan.

Ha3 ….saya kurang tau apakah benar seperti itu ? Kayaknya kalau diangkut dengan pesawat tidak selama itu juga. Kalau dulu mungkin bisa demikian.

Terlepas dari semua itu ….

Terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Mencukupi kebutuhan bangsa ini, Engkau memberikan kami kekayaan laut dengan ikan-ikan berbagai jenis dalam jumlah yang melimpah.

Maka terkutuklah bangsa-bangsa lain beserta kroni-kroninya yang bersekongkol mencuri ikan-ikan di perairan kami.

O ya, akhirul kata, makan siang di restoran Yougwa untuk tiga orang hanya Rp296.000,-…..

# Postingan ini ditulis pada hari Jumat, tanggal 4, bulan April, tahun 2014, dalam perjalan dari Bandara Sultan Hasanuddin Makassar menuju Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng, dari ketinggian 33.000 kaki dpl#

Advertisements