Tags

, , ,

Kayaknya cerita tentang banjir di negeri ini masih belum akan berakhir, ada saja yang bisa dibahas dan diperbincangkan. Salah satunya adalah tentang rusaknya ruas jalan TB. Simatupang, tepatnya di depan Gedung Graha TB. Simatupang (sisi Utara) dan Gedung Plaza Oleos (sisi Selatan).

Menurut info yang saya dapatkan hal ini disebabkan oleh peningkatan debit air, sehingga gorong-gorong di bawah jalan tsb tidak mampu menampung aliran air Kali Sarua yang menuju Kali Mampang.

***

Beberapa waktu yang lalu (sebelum saya mendapatkan info seperti di atas), ketika saya sedang dalam perjalanan dari daerah Mangga Besar melewati Jalan Ragunan Raya menuju Pasar Minggu, dengan tujuan akhir Cibubur-Cileungsi.

Sampai di depan Polsek Pasar Minggu laju kendaraan agak tersendat, saya balik arah, di lampu merah saya belok ke Jalan Jati Padang, sampai di ujung jalan saya lihat sekelompok orang (sekitar belasan) yang mengarahkan kendaraan supaya balik arah seperti layaknya “Pak Ogah yang ngatur kendaraan” di persimpangan jalan.

Dalam hati saya berkata, keadaan ini seolah-olah memang sudah “dikondisikan” seperti itu dengan membiarkan kendaraan masuk lewat jalan tsb, setelah “terperangkap” mau ga mau setiap kendaraan (saya yakin) pasti akan bayar, kalau tidak pasti akan “dicembrutin” mereka.

Mengapa saya bisa mengatakan demikian ?

Menurut saya, kalau dari awal niat sekelompok orang tersebut BAIK, tentu saja sejak dari lampu merah atau sebelum kendaraan masuk ke jalur itu, sudah di buat semacam pemberitahuan bahwa ujung jalan Jati Padang tidak bisa dilewati/ditutup, karena ada kerusakan di Jalan TB. Simatupang.

Saya rasa kondisi ini memang disengaja dan dimanfaatkan untuk mengeruk keuntungan semata, dalam arti kata “memeras” pemilik kendaraan yang lewat.

Mohon maaf meskipun hanya “memberi”  seribu atau dua ribu rupiah, saya yakin orang-orang tidak rela, karena merasa dikerjain.

Apalagi waktu yang terbuang sia-sia, sementara kita punya janji yang harus ditepati

Bayangkan, mungkin ada ratusan bahkan ribuan kendaraan yang “terjebak” dan lewat Jalan Jati Padang setiap hari (dari pagi sampai malam). Padahal pihak berwenang mengatakan bahwa perbaikan ruas Jalan TB Simatupang yang “ambles” dan menelan biaya Rp2,5 miliar tsb baru bisa dirampungkan selama 17 hari….!!!

Saya menyimpulkan, hal ini merupakan suatu konspirasi jahat, dikerjakan secara berjamaah (tua, muda bahkan anak-anak) ikut ambil bagian dalam “proyek” ini.

Saya tidak tau, apakah selama itu juga “proyek” ini dikelola kelompok tsb ? Soalnya saya kapok lewat situ lagi…..!!!

Kemana tokoh masyarakat, tokoh agama, RT, RW, LURAH bahkan CAMAT atau POLISI yang kantornya tidk jauh dari situ ?

Advertisements