Tags

, , , , , ,

Pagi ini, saya mendapatkan sebuah email dari seorang sahabat, isinya kurang lebih sebagai berikut :

Pada hari Jumat (23/1), anak saya (Helmi)  minta izin besoknya (Sabtu 24/1) mendampingi kawannya (Shiddiq)  ke Bandung (tempt kos Ayahnya) untuk membereskan barang-barang milik Ayahnya dan barang-barang milik kantor beliau.

Saya tanya, kenapa Ayahnya tidak mengurus sendiri, jawab Helmi : “Ayah Shiddiq pada Selasa (14/1 pukul 01:30 WIB) meninggal dunia”

Inna lillahi wa inna Ilahi rojiuun.

Menurut Helmi : “Tidak tahu beliau sakit apa?

Sekembalinya dari Bandung,  Helmi menceritakan bahwa:

Pada hari Senin (13/1) Ayahnya Shiddiq masih bekerja seperti biasa, malamnya masih ngobrol dengan Shiddiq. 

Pada pukul 01:30 sang Ayah shalat  tahajud, shalat taubat dan shalat witir kemudian istirahat.

Setelah itulah beliau jatuh terduduk di sofa, dan tidak bangun lagi….

***

Menurut yang Helmi ketahui, almarhum adalah seorang Karyawan salah satu anak perusahaan PT. Kereta Api Indonesia (KAI), tugasnya berpindah-pindah, terakhir bertugas dan kos di Bandung, sedangkan keluarga dan anak-anak almarhum tinggal di daerah Depok.

Nah ketika meninggal dunia almarhum sedang berkumpul dengan keluarganya di Depok.

O ya, Shiddiq saat ini masih meneruskan kuliahnya (Semester 3 ) di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

***

Menurut sahabat saya, yang dapat dipetik dari kejadian ini adalah : “Kita yakin Allah dapat mencabut nyawa seseorang kapan saja walaupun dalam keadaan sehat. Kita harus selalu menabung bekal untuk di akherat kelak”

Dan setelah Shiddiq membaca postingan ini, atas permintaan Shiddiq melalui Helmi agar ditambahkan pesan sebagai berikut : “Tebarkanlah kebaikan semasa hidup. Jadilah org yang sabar dan ikhlas dalam menjalani kehidupan. Insya Allah hidup akan menjadi ringan, dan ketika kembalipun akan tenang dan damai”

 

Advertisements