Tags

, , , , ,

IMG_0501

Banjjir di Kampung Makassar Kelurahan Kramatjati Jakarta Timur (pinggiran Kali Cipinang)

Kasihan saudara-saudara kita yang terkena musibah Banjir “Tahunan” yang mengganggu roda perekonomian di Jakarta dan sekitarnya, Banjir Bandang yang memporak porandakan perumahan, perkantoran, dan harta benda saudara-saudara kita di Manado, maupun di salah satu lumbung utama padi Nasional di Karawang, Bencana akibat Erupsi Gunung Sinabung, Kabupaten Karo, Sumatra Utara dan daerah-daerah lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Makanya bencana tahun ini dapat dikatakan sebagai Bencana Nasional.

Beberapa lokasi banjir yang sempat saya kunjungi bersama keluarga maupun bersama teman-teman adalah rumah sahabat-sahabat saya di daerah Kampung Makassar, Kelurahan Kramatjati Jakarta Timur dan  Kelurahan Pejaten Timur Jakarta Selatan.

***

Sabtu (18/1), bersama istri dan anak-anak, saya mengunjungi rumah sahabat yang tinggal di Kampung Makassar (sekitar 50 meter dari Kali Cipinang) terendam sampai 50 cm padahal rumah tsb sudah ditambah tingginya sampai 40 cm dari gang depan rumah, sementara gang depan rumah itu sendiri juga sudah ditambah tingginya.

He3… mau apa lagi…. !!!

Masih untung rumah-rumah di sekitar tempat ini rata-rata bertingkat yang dipersiapkan kalau terjadi banjir seperti sekarang ini.

Pompa yang diharapkan dapat membantu mempercepat surutnya air malah rusak, meskipun pintu aliran air dari kali Cipinang ke got sudah ditutup.

IMG_0492

Salah seorang korban yang menjelaskan ketinggian air, meskipun rumah tsb sudah di naikkan hampir satu meter dari permukaan tanah..

IMG_0535

Pompa air yang rusak

IMG_0537

Pintu air keluar/masuk Kali Cipinang

IMG_0526

Penduduk berjaga-jaga memantau Kali Cipinang (tidak jauh dari Tol Jagorawi)

IMG_0542

Alhamdulillah, anak-anak masih tetap ceria

***

Senin (20/1), bersama teman-teman saya mengunjungi rumah kontrakkan sahabat saya yang berada di Kawasan Pejaten Timur.

Rumah ini berada di bantaran Kali Ciiwung dan kondisinya lebih parah lagi. Air di rumahnya sebentar naik sebentar turun. Pagi dibersihkan dari lumpur, siangnya sudah dimasukin air dan lumpur lagi.

Rumahnya hanya berjarak 2 meter dari bibir kali Ciliwung, dengan ketinggian hanya setengah meter dari kali ketika saya datang Senin (19/1) kemarin.

Ketinggian rendaman banjir di rumahnya pada puncaknya mencapai 2,5 meter…!!!

Istri dan anak-anaknya diungsikan ke rumah kakaknya yang berlokasi tidak jauh dan lebih tinggi.

Banjir di Pejaten Timur

Kiri : Hanya beberapa meter dari bibir kali Ciliwung
Kanan : Lumpur sisa banjir Kali Ciliwung

Kali Ciiwung

Kiri : Ketinggian air beberapa hari yang lalu,
Kanan : Kali Ciiwung

***

Ada lagi cerita tentang perjuangan sahabat-sahabat saya  sejak banjir melanda Jabodetabek lebih dari seminggu yang lalu dari Bekasi ke tempat kerjanya di Jakarta.

Menurut teman-teman saya tsb, kemacetan yang sangat parah dan mencapai puncaknya pada hari ini Rabu (22/1), setelah hampir 3,5 jam stuck di pintu tol menuju Halim, benar-benar tidak bergerak sama sekali. Terpaksa mereka balik  arah, kembali ke rumah masing-masing di Bekasi.

Besok gimana ? Wallahualam…..

Kita berharap semoga musibah ini cepat berlalu.

Dengan harapan semoga masyarakat kita cepat sadar, menjaga kebersihan.

Meskipun banyak peringatan berupa himbauan langsung, tertulis atau  larangan dengan berbagai peraturan, dengan dikenakan denda dll supaya tidak membuang sampah sembarangan, buanglah sampah di tempat sampah. Jangan buang sampah di got atau kali. Kelihatannya belum begitu efektif.

Tetap saja masih banyak yang kita saksikan orang-orang membuang sampah seenaknya. Bahkan sangat miris melihat banyak pengendara mobil (mulai dari angkot sampai mobil mewah) yang membuang sampah dari mobilnya ke jalan raya.

Tanpa merasa berdosa…..!!!

Ada juga yang menyalahkan Pak Jokowi dan Ahok yang ga bisa mengatasi banjir, padahal semua tidak akan berhasil jika kita (sebagai masyarakat) tidak ikut andil dalam melakukan sesuatu untuk menanggulanginya. Minimal menjaga kebersihan diri sendiri, rumah, dan lingkungan sekitar.

Karena hal ini perlu action bukan hanya teori belaka.

Boleh juga dengan mempertimbangkan pendapat para ahli dari Belanda (seperti pernah ditayangkan oleh salah satu TV Swasta) yang menyarankan agar kali-kali di Jakarta dibuat lurus, tidak dibiarkan berkelok-kelok seperti sekarang, jaman sudah berubah. Apalagi banyak tanaman dan pohon-pohon serta rumah di bantaran kali tsb yang dapat menghambat lajunya air.

Kita harus rela meninggalkan romantisme jaman dulu, dimana kali Ciliwung digambarkan sebagai kali yang indah karena berbelok-belok dan meliuk-liuk.

Advertisements