Tags

, , , , ,

Listrik Pintar

Meter Prabayar dan Tokennya

Beberapa bulan yang lalu saya menambah daya listrik di rumah. Ternyata untuk perubahan atau permintaan baru, Perusahaan Listrik Negara (PLN) mewajibkan pelanggan menggunakan Meter Prabayar (MPB).

Teman saya tidak mau menggunakan MPB, namun PLN mensyaratkannya agar mengisi sebuah surat pernyataaan.

Sistem baru ini diklaim oleh PLN sebagai “Listrik Pintar”, inovasi terbaru sebagai pelayananannya kepada masyarakat, katanya untuk kemudahan, kebebasan dan kenyamanan bagi pelanggannya.

Terus menurut petugasnya, dengan listrik pintar : “Pelanggan dapat mengendalikan sendiri penggunaan listriknya sendiri sesuai kebutuhan dan kemampuan”.

Tiga hari setelah saya mendaftar langsung ke kantor Pelayanan PLN terdekat (bisa juga online), petugas PLN datang ke rumah untuk mengganti meteran dengan yang baru.

Hebatnya, si petugas menolak ketika saya kasih uang tips. Dan beberapa hari kemudian saya mendapatkan telepon dari PLN, menanyakan “apakah petugas PLN sudah datang ke rumah bapak, apakah ada tambahan biaya?”

Ooo….. ternyata, ada pengecekan toh, makanya si petugas takut menerima uang tips yang saya berikan.

***

Cara kerja MPB hampir sama dengan pengisian pulsa (isi ulang) pada telepon mobile, yaitu membeli pulsa (voucher/token listrik isi ulang) untuk mendapatkan kode  20 digit nomor, kemudian dimasukkan ke dalam MPB.

Voucher bisa didapat melalui supermarket/pasar swalayan, minimarket,  atau ATM.

Kalau akan membeli pulsa, jangan lupa membawa atau mencatat nomor pelanggan (token) kita.

Nah di layar MPB  bisa diketahui informasi jumlah energi listrik yang tersisa dan jumlah energi listrik (kWH) yang dimasukkan.

Jika angka di MPB di bawah 20.00, akan terdengan bunyi (beep) peringatan, sebagai tanda agar segera melakukan pengisian ulang.

Di tokennya terdapat kata-kata :

“Hemat Energi

Selamatkan Bumi”

dan

“Listrik untuk Kehidupan yang Lebih Baik”

Advertisements