Tags

, , , , , ,

Kelok 44

Kelok 44

Jarum jam tangan saya menunjuk ke angka 3 lewat 35 menit, hal ini mengisyaratkan bahwa masih cukup waktu untuk melanjutkan perjalanan dari Pandai Sikek ke Danau Maninjau seperti yang kami rencanakan.

Untuk menuju ke Danau Maninjau, di Kecamatan Tanjung Raya, Agam, Sumatera Barat, kami harus melewati jalur yang mau tidak mau dilewati, meskipun berkelok-kelok, terjal dan curam, lembah yang siap menerkam, jalan yang relatif sempit bahkan jika dua kendaraan roda empat atau truk berpapasan, salah satunya harus minggir untuk memberikan kesempatan yang lain lewat terlebih dahulu.

Jalan ini adalah jalur yang cukup ditakuti dan bikin ngeri para pengendara, tapi juga paling dicari untuk mencoba dan merasakan sensasinya. Namanyapun cukup dikenal yaitu “Kelok Ampek Puluah Ampek”, sesuai dengan jumlah belokan atau tikungannya yaitu 44 kali, sepanjang kira-kira 10 km.

Kurang lebih satu jam kemudian (16.30 WIB), kami sudah sampai di tikungan pertama yang ditandai dengan angaka “44”.

Jumlah tikungan dihitung mulai dari bawah ke atas. Jadi dari arah yang kami lewati sekarang, jumlah kelokannya dihitung mundur.

Waktu beberapa tahun yang lalu, ketika saya ngajak anak-anak ke daerah ini, secara bersamaan mereka menghitung jumlah kelokan yang dilewati : 44, 43, 42, 41, 40, ……dst sampai ke kelokan terakhir.

Alhamdulillaaah…….!!!!

πŸ™‚

***

Biasanya, dari arah Bukittinggi sebelum mengawali “pertarungan”, kami berhenti dulu di sebuah warung yang mempunyai posisi strategis.

Warung ini terletak di daerah Ambun Pagi, tidak jauh dari Puncak Lawang (lokasi tertinggi di sekitar Danau Maninjau). Di sini kita bisa melihat ke arah danau dan deretan sawah dengan jelas (kalau tidak sedang berkabut).

Panorama Danau Maninjau 2Di warung ini juga dijajakan kaos oblong bertuliskan “Danau Maninjau” yang bisa dijadikan kenang-kenangan dari daerah ini .

Panorama Danau Maninjau4

View di sekitar Ambun Pagi

Panorama Danau Maninjau 1

View dari Ambun Pagi ke arah danau

Kalau kita memandang ke arah Barat saat itu sudah terlihat mulai gelap, sedangkan sebaliknya lebih terang.

Panorama Danau Maninjau 3

Banyak truk dari arah danau “naik” membawa “karung” plastik berisi ikan-ikan hidup dan masih segar hasil panen masyarakat pinggiran danau untuk dijualΒ  besok pagi ke pasar-pasar di sekitar Pekanbaru (Riau).

Tidak heran bahwa ekonomi sebagian msayarakat sekitar banyak ditopang oleh usaha perikanan dengan memanfaatkan air Danau Maninjau yang juga merupakan sumber air Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Maninjau dan sungai bernama Batang Sri Antokan.

Kelok 44-3

Sebuah truk yang meluncur kencang di salah sebuah tikungan, nyaris menyenggol kendaraan yang kami naiki. Coba perhatikan kaca spion sebelah kanan supir nyaris disenggolnya.

Saya buka kaca mobil dan segera mengambil gambar supirnya dengan kamera yang standby di genggaman, beginilah tampangnya cuek tanpa ekspressi dan tanpa rasa bersalah :

Kelok 44-8

Truk dan supirnya yang ugal-ugalan, nyaris mencelakakan kami