Tags

, , , , , , , ,

Mesjid Koto Baru

Mesjid Koto Baru

Mesjid di daerah Koto Baru Padang PanjangΒ  ini mengingatkan saya masa-masa SMA (Sekolah Menengah Atas), ketika sedang doyan-doyannya naik gunung, terletak di Jalan Raya Padang – Bukittinggi.

Mesjid ini sering digunakan sebagai meeting point untuk para pendaki Gunung Merapi maupun Gunung Singgalang, sebagai tempat untuk mengatur strategi,Β  serta beristirahat sejenak mempersiapkan fisik dan mental sebelum mendaki salah satu gunung tsb.

Untuk ke Gunung Merapi kita harus menyeberang jalan raya, melewati persawahan, rumah-rumah dan perkampungan penduduk, kemudian bisa langsung mendaki, sedangkan untuk naik ke Gunung Singgalang sebelumnya kita masih bisa menumpangi kendaraan umum menuju ke punggung gunung.

Nah, jalur yang kita lewati untuk dapat mencapai punggung Gunung Siggalang ini adalah sebuah Nagari (Kelurahan) yang bernama Pandai Sikek, Kecamatan Sepuluh Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumbar.

Nagari Pandai Sikek sejak dahulu dikenal sebagai daerah pengrajin kain tenun antik yang dinamakan dengan “Songket” dengan kualitas nomor satu, baik sarung maupun selendang.

Bahan baku songket adalah benang emas atau benang perak, benang linen, bahkan benang sutera, menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) yang sangat sederhana dan masih tergolong tradisional.

Pekerjaannya benar-benar hanya hasil karya dan kreatifitas tangan manusia (handmade), membutuhkan keahlian dan ketekunan, sehingga waktu untuk menyelesaikan satu lembar kain sarung yang indah dan berkualitas prima bisa mencapai 1 sampai 3 bulan, tergantung kerumitan proses pembuatannya.

Sehingga sangat wajar kalau harganya bisa mencapai belasan bahkan puluhan juta rupiah (untuk oleh-oleh ada juga yang harganya hanya ratusan ribu). Apalagi untuk pengrajin yang mampu menghasilkan songket dengan motif-motif kuno perpaduan bahan sutera dengan benang emas jumlahnya sudah sangat terbatas.

Songket biasanya digunakan pada Upacara Adat di Minangkabau seperti Batagak Gala (Upacara Penobatan Gelar), Baralek Gadang (Pesta Perkawinan), dll.

Hampir setiap kali ke Sumbar, kami selalu mampir ke Pandai Sikek karena senang dengan kehidupan masyarakatnya yang mempunyai keahlian khusus secara turun temurun, apalagi bisa menyaksikan sendiri proses pembuatan kain tenun tsb mulai dari (masih berupa) benang sampai menjadi sarung atau selendang.

Sepanjang jalan banyak ditemui rumah yang merangkap menjadi toko atau showroom kain songket. Tapi diantara toko-toko tersebut hanya satu yang selalu saya kunjungi yaitu “Satu Karya”, sejak masih satu lantai sampai sekarang sudah menjadi tiga lantai, dengan fasilitas yang memadai seperti mushalla, tempat wuduk dan kamar mandi yang bersih, kolam ikan, view yang indah (sawah, kebun, pegunungan) dan yang terpenting adalah pelayanannya yang sangat ramah dan baik, dari pemiliknya langsung.

Pada umumnya pengunjung yang berbelanja di sini adalah dari Jakarta, bahkan pada saat kami datang, ada sekitar 15 orang (rombongan) wisatawan dari Malaysia yang “memborong” Songket, Kebaya Sulaman atau Bordiran, Baju Taluak Balango (baju koko),Β  Selop atau Sandal “Datuak Maringgih”, maupun Peci (kopiah nasional), dan berbagai macam barang untuk oleh-oleh.

Tidak heran mulai dari pemilik sampai dengan karyawan (semuanya perempuan) sangat mahir berbahasa dengan dialeg Melayu (Malaysia).

Gambar-gambar di bawah ini adalah beberapa view jalur yang kami lewati menuju Nagari Pandai Sikek yang asri dan sejuk, serta tanaman daun sup dan daun bawang di rumah-rumah penduduk :

pandai sikek1

pandai sikek2

pandai sikek3

pandai sikek4

IMG_3032

Lihatlah, kedua mobil yang parkir ini berplat nomor Jakarta, yang membawa rombongan Warga Negara Malaysia (seperti saya sebutkan sebelumnya). Saya rasa mereka melakukan perjalanan darat dari Jakarta ke tempat ini dengan mobil carteran.

IMG_3034

Beberapa hasil kerajinan di Satu Karya :

songket

Songket Pandai Sikek, perpaduan antara benang sutera, benang emas dan perak

IMG_3036

Beirkut ini adalah Rumah Tenun Pusako Pandai Sikek, yang terdapat tidak jauh dari Satu Karya.

Menurut cerita, dari Rumah Gadang inilah sejarah tentang tenun atau songket Pandai Sikek bermula, turun-temurun dan berkembang menjadi keahlian anak Nagari atau kampung seperti sekarang ini.

rumah tenun

Advertisements