Tags

, , , , , ,

Ceker Ayam

Ceker Ayam Kampung

Kurang lebih lima belasan tahun yang lalu, ketika istri saya bertugas di Solo (Jawa Tengah) sering bercerita tentang Gudeg Ceker Bu Kasno (nama yang sebenarnya adalah Gudeg Cakar Bu Kasno), terletak di Jl. Wolter Monginsidi, Margoyudan, Solo. Tidak jauh dari Stasiun Solo Balapan, tepatnya depan SMAN 2 Solo

Uniknya warung ini baru buka pada pukul 02.00 pagi (dini hari), mau dikatakan makan malam sudah lewat atau mau dikatakan sarapan tapi kepagian….entahlah apa namanya ?

Ceker (kaki)  ayam ini menjadi makanan pendamping yang dihidangkan bersama gudeg. Menurut Bu Kasno (perempuan tua pemilik warung), ceker di warungnya direbus dengan bumbu santan hingga empuk dan lezat sehingga menjadi menu favorit di sini. Ada ceker ayam negeri, ada pula ceker ayam kampung.

Disamping itu, ada juga krecek, semur telur, ati-ampela dan tidak ketinggalan tahu – tempe bacem…!!!

O ya, pada malam sebelum tidur, saya ingin mengajak teman-teman agar ikutan dengan saya dini hari nanti mencari Gudek Ceker Bu Kasno, tapi tidak ada yang mau saudara-saudara, “ngantuk,” katanya.

*Lagian siapa juga yang mau bela-belain hanya nyari ceker pukul 2 pagi ? hehehe…*

Tapi buat saya tidak demikian, saya ingin merasakan sensasinya, bagaimana rasanya makan gudeg pukul 2 pagi ?

Singkatnya, saya pasang bel agar pukul setengah dua bisa bangun, kemudian siap-siap untuk berangkat ke Margoyudan (tentu saja sendirian).

Tau ga saudara-saudara saya naik becak dari Best Western Premier Hotel Solo (tempat saya menginap) yang terletak di Jalan Slamet Riyadi ke Margoyudan (abang becaknya “maksa” agar dia saja yang ngantar ke sana, “ga usah cari taksi Pak“, kata abang becak), padahal jaraknya lumayan jauh dan jalannya agak mendaki.

Sampai di warung ini, saya melihat pengunjungnya cukup ramai, anak-anak muda banyak yang nongkrong di pinggir jalan, juga pengamen.

Warungnya sangat sederhana seperti warung tenda, di pinggir jalan, ada lesehan, ada juga yang duduk dibangku kayu panjang (tanpa meja).

Ceker Ayam Negeri

Saya pesan Nasi Gudeg Komplit yaitu : nasi + semur ayam + semur telur + gudeg + krecek (cabe rawitnya gratis), satu porsi ceker, ditemani segelas teh tubruk angat (tentu saja tanpa gula).

Untuk dua porsi gudeg komplit (makan bareng dengan abang becak) ditambah satu porsi Ceker Ayam Kampung   dan 2 gelas Teh, kalau tidak salah hanya sekitar Rp 56.000,- yang mahal ongkos becaknya (PP) Rp 100.000,-  😀

Tapi itu juga bukan salah si abang becak, dia hanya bilang untuk ongkos terserah bapak saja “kan Bapak ajak makan juga“, kata si abang. Apalagi setelah makan, saya diajak jalan-jalan lihat suasana dini hari kota Pak Jokowi ini (dan saya juga mau).

Tapi ketika saya desak : “Bang, saya harus bayar berapa ?“.

Kata si Abang : “Bapak keberatan ga kalau Rp 60.000,- ?. Akhirnya saya kasih Rp 100.000, alhamdulillah …. si Abang becak senang sekali.

Nasi Gudek Komplit

Ceker Ayam Kampung

Bu Kasno mempunyai dua orang asisten, yaitu seorang laki-laki dan seorang perempuan (apakah mereka anak dan mantu atau orang lain ? tidak tau). Menurut asistennya ini, Warung Bu Kasno berdiri sekitar tahun 70-an.

Bu Kasno

Gudek Cakar Bu Kasno

Warung Gudek Cakar Bu Kasno

Pengunjung Warung Bu Kasno

Alhamdulillah, setelah penantian selama hampir 15 tahun, akhirnya saya bisa menikmati Gudeg Ceker Bu Kasno 🙂

Advertisements