Tags

, , , , , , , , , , , , ,

Hari itu saya berangkat pukul 5 pagi dari Jakarta menuju Gorontalo menggunakan penerbangan Lion Air, dengan biaya Rp 1,030.000,- untuk sekali penerbangan.

Rencananya dari rumah naik taxi sekitar pukul 3 pagi, karena itu saya mengatur bel di handphone agar berbunyi pukul 2.10 pagi (meskipun baru bisa berangkat menuju bandara pukul 3.20 pagi). Karena dari rumahnya terlalu pagi saya tidak sarapan,  hanya minum teh sekedar meghangatkan perut saja.

Sampai di Bandara Soekarno-Hatta sekitar pukul 4.10 pagi,  ramai sekali orang-orang yang hendak bepergian (bandara sudah seperti terminal bus kota). Menurut supir taxi yang saya tumpangi : “biasanya antara pukul 2 s/d 4 pagi memang begini Pak”. Apalagi pesawat yang menuju ke Bagian Timur Indonesia biasanya memang take off  pada pagi hari.

Untuk chek-in, karena tidak bawa barang-barang untuk disimpan di bagasi disediakan jalur khusus yang antriannya lebih sedikit.  Bayar airport tax Bandara Sekarno-Hatta Rp 40.000,-

O ya, sebelum masuk ke ruang tunggu, saya sarapan dulu, karena pesawat yang saya tumpangi menganut paham “penerbangan tanpa asap rokok dan tanpa minum, apalagi makan”.

Nah, di restoran yang lokasinya di depan pintu masuk ruang tunggu, saya makan dengan telur balado + sayur buncis + kentang balado dan sebotol Pocari Sweat (ukuran kecil) dengan harga Rp 52.000,- (kalau makan pagi-pagi seperti ini, harap berhati-hati kayaknya rasa sebagian buncis dan kentang baladonya agak berubah)

Sebelum berangkat saya masih sempat menunaikan Shalat Subuh di Musholla Ruang Tunggu.

Pesawat menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Maros, Makasar dalam waktu sekitar 2 jam 10 menit. Kebijakan penumpang transit di Lion Air harus turun dengan membawa semua barang bawaan dengan alasan pesawat akan dibersihkan.

Bandara Internasional Sultan Hasanuddin

Proses transit adalah turun pesawat, naik shuttle bus, lewat jalur transit, lapor, langsung antri lagi di pintu keluar untuk naik shuttle bus dan masuk kembali ke pesawat (wasting time). Penerbangan menuju Bandar Udara Djalaluddin Gorontalo dalam waktu 1 jam 20 menit.

——

Karena maksud dan tujuan di Gorontalo sudah tercapai, besoknya saya cari tiket untuk pulang hari berikutnya, ternyata semua penerbangan fully booked, kecuali Sriwijaya Air dengan harga Rp 2.300.000 (apakah karena sedang musim haji ?)

Saya melanjutkan pencarian tiket untuk hari berikutnya lagi, Lion Air dengan harga Rp 2.600,000,- Sriwijaya Air masih sama dengan harga sebelumnya Rp 2.300.000,- tapi Garuda dengan harga Rp 1.900.000,-. Saya putuskan untuk naik Garuda saja, apalagi harga tersebut sudah termasuk airport tax (meskipun di sini airport tax hanya Rp 11.000,-).

Di Bandara Djalaluddin saya kaget, ketika mendengar pengumuman bahwa pesawat yang saya tumpangi akan menempuh rute Gorontalo – Makassar – Surabaya – Denpasar – Jakarta, karena biasanya pesawat hanya transit di Makassar, kecuali Sriwijaya Air yang juga transit di Surabaya.

Sampai di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, ternyata Garuda (kalau transit) mengizinkan penumpang untuk tinggal di pesawat, atau yang ingin turun tidak harus membawa barang-barang bawaannya.

Pada saat akan take off kembali, kapten pilot menyampaikan bahwa “kita akan terbang langsung ke Bandara Internasional Soekarno Hatta dalam waktu 2 jam dan 10 menit”.

Allhamdulillah tidak jadi transit di Surabaya dan Denpasar….!!!

Advertisements