Tags

, , , , , , , , ,

Halaman Depan Nasional Museum of Australia

Halaman Depan Nasional Museum of Australia

Di salah satu surat kabar harian ibu kota (19/12), saya membaca tulisan tentang “Museum Belum Dioptimalkan untuk Pendidikan Karakter”

Tergelitik dengan tulisan di atas, saya teringat ketika mengunjungi National Museum Of Australia, yang diresmikan oleh Perdana Menteri Australia saat itu John Howard  pada 11 Maret 2001.

Gedung museum didominasi dengan warna oranye, dan model bangunannya  tidak seperti museum pada umumnya.

Pintu Masuk Nasional Museum of Australia

Pintu Masuk Nasional Museum of Australia

Untuk masuk ke museum, semua barang bawaan harus ditinggalkan di tempat penitipan, termasuk handphone. Di dalam ruang pameran tidak diperkenankan menggunakan kamera.

Di museum, kami didampingi oleh seorang guide yang siap memberi penjelasan tentang budaya dan sejarah Australia.

Yang menarik bagi saya adalah Harimau Tasmania (Thylacinus cynocephalus) yang diawetkan, karena binatang ini dinyatakan telah punah.

Bentuk fisiknya berbeda dengan harimau biasa, pada punggung Harimau Tasmania terdapat corak belang.  Karena bentuk moncongnya yang mirip dengan serigala, harimau ini juga disebut dengan Serigala Tasmania.

Diceritakan bahwa kepunahan Harimau Tasmania  berawal dari hobi berburu orang Eropa yang bermigrasi ke Australia. Harimau Tasmania  yang terakhir tercatat pada tahun 1933, kemudian dibawa ke Inggris dan dipamerkan di Kebun Binatang Hobart London hingga tewas pada tahun 1936.

Foto berikut adalah salah satu foto yang ada di dalam museum ( saya pinjam dari : un2kmu.wordpress.com), dalam artikel ini :

Perburuan Harimau Tasmania sekitar 100 tahun lalu

Perburuan Harimau Tasmania sekitar 100 tahun lalu

Kebudayaan Suku Aborigin sebagai penduduk asli Australia banyak dipamerkan di sni.

Banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran,  yang pasti museum ini dikelola sangat profesional, dengan nilai seni dan memanfaatkan teknologi tinggi.

Keluar dari ruang pameran terdapat sebuah toko khusus menjual cendera mata dan souvenir. Dan di sekitar museum ada kafe dan restoran yang membuat pengunjung betah berada di sini.

Banyak anak-anak sekolah berkunjung sambil wisata sekaligus belajar di museum ini. Mungkin bagi mereka, museum adalah salah satu sarana terpenting dalam pendidikan.

Bagaimana dengan anak-anak sekolah di Indonesia ?

Anak saya sampai duduk di SMP, belum pernah berkunjung ke museum (lewat agenda sekolah), begitu juga anak yang kedua.

Kalaupun ada, kenapa agenda anak-anak sekolah di Indonesia mengunjungi museum sangat kurang ?

Alangkah baiknya keberadaan museum dioptimalkan sebagai media pendidikan karakter bagi anak didik dan generasi muda (seperti disampaikan pada awal tulisan di atas). Padahal dengan mengunjungi dan mempelajari museum, mampu memupuk rasa cinta tanah air, negara dan bangsa.

Diharapkan hal ini bisa  menjadi salah satu cara untuk meningkatkan mutu pendidikan .

By the way, untuk akses ke National Museum Of Australia sangat mudah, parkir yang luas dengan bus-bus yang nyaman.

Pulangnya kami jalan kaki  menuju ke Apartemen yang berjarak sekitar 3 s/d 4 km, melewati pohon-pohon besar dan rindang, rumput yang hijau, kampus The Australian National University (ANU), danau buatan Cruises Lake, Ian Potter House,  dan Melbourne Building.

Di tengah perjalan sempat turun hujan, tapi hanya sekitar 10 menit terus berhenti lagi….…..

Cruises Lake

Cruises Lake

Advertisements