Tags

, , , , , ,

Melanjutkan cerita sebelumnya tentang perjalanan saya ke ”Pulau Penyengat”  atau “Pulau Penyengat Inderasakti” yang biasa disebut sebagai Pulau Bahasa.

Dengan menaiki sebuah bot pompong kami sampai di Pelabuhan Pulau Penyengat, menelusuri sebuah lorong berbahan dasar  semen menuju Mesjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat.

Karena hari Jumat, kami merencanakan akan melakukan ibadah Shalat Jumat di mesjid ini. Setiap Jumat tempat ibadah ini selalu ramai dikunjungi oleh masyarakat dari pulau sekitarnya yang merasa lebih senang dan lebih afdal bila melakukan Shalat Jumat di sini.

Kami masih bisa memutari pulau dengan segala pesonanya, karena shalat Jumat baru dimulai sekitar dua jam lagi. Sebelum mengawali perjalanan dengan Becak Motor (Bentor) kami memesan ikan bakar yang akan kami santap ba’da Jumatan. Karena menerut teman saya, sebaiknya kita pilih dan pesan makanan atau ikannya terlebih dahulu, agar tidak kehabisan.

Teman saya memesan (masyarakat di sini menamakannya) Ikan Selar (padahal setahu saya ikan selar itu kecil-kecil dan tipis, banyak tulangnya, di Padang namanya Ikan Maco), saya memesan Ikan Pari untuk dibakar, karena saya belum pernah merasakan ikan ini dibakar, tapi kalau diasap (dijual dengan potongan  kecil-kecil) sudah pernah.

Ikan Pari yang sudah dibersihkan & Ikan Selar

Ikan Pari yang sudah dibersihkan & Ikan Selar

Oh ya, seperti yang saya katakan pada tulisan sebelumnya bahwa Mesjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat, didirikan oleh Sultan Mahmud pada tahun 1803,  sebagai hadiah kepada Permaisurinya, dibangun dengan campuran putih telur, kapur, pasir dan tanah liat, berukuran 20 x 18 m, di topang oleh 4 buah tiang beton, 4 buah menara dan  13 kubah.

Di sisi mesjid terdapat bangunan tambahan yang dinamakan dengan Rumah Sotoh (tempat pertemuan).

Oh ya, di dalam mesjid juga terdapat sebuah Al-Quran yang ditulis tangan, sayang tidak boleh di foto.

Mesjid Raya dari samping

Mesjid Raya dari samping