Tags

, , , , , ,

Hari Jumat (21/10) pukul 10 hampir sebulan yang lalu, kami berada di sebuah pelabuhan kecil di samping Pelabuhan Sri Bintan Pura, Tanjung Pinang, tempat perahu kecil  atau “pompong” berlabuh.

Dengan biaya Rp 5.000 per orang (untuk penduduk asli hanya Rp 3.000), kami diantar menyeberangi laut yang bening, menuju Pulau Penyengat yang menjadi pusat Kerajaan Lingga pada jaman dahulu.

Mendekati pulau, kelihatan rumah-rumah penduduk asli yang berada di atas permukaan laut di bibir pantai, di sepanjang pesisir pulau.

Pelabuhan Sri Bintan Pura dari jauh

Pelabuhan Sri Bintan Pura dari jauh

Rumah Pantai

Rumah Pantai

Setelah sampai di Pelabuhan Pulau Penyengat,  kami berjalan kaki menuju sebuah tempat ibadah yaitu Mesjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat. Menurut sejarah, mesjid ini didirikan oleh Sultan Mahmud pada tahun 1803, dibangun dengan menggunakan campuran putih telur, kapur, pasir dan tanah liat.

Untuk “pusing-pusing” alias mengelilingi Pulau Penyengat menggunakan Becak Motor (Bentor) dengan harga Rp 25.000 yang bisa ditumpangi oleh 2 (dua) orang.

Kami mengunjungi :

  • Komplek Makam seperti makam Raja Hamidah (Engku Putri) Permaisur Mahmud Syah III Riau – Lingga, Raja Ahmad (Penasihat Kerjaan), Raja Ali Haji (Pujangga Kerajaan), Raja Abdullah Yang Dipertuan Muda (YDM) Riau – Lingga IX Raja Aisyah (Permaisuri).
  • Komplek Makam YDM Riau VI Raja Ja’far dan YDM Riau VIII Raja Ali M.
  • Balai Adat Melayu Indera Perkasa.
  • Komplek Istana Kantor.
  • Bukit Kursi tempat makam Raja Abdul Rahman.
  • Gedung Mesiu.
  • Benteng Pertahanan.

Kunjungan di Pulau Penyengat kami akhiri dengan Shalat Jumat di Mesjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat dan makan siang di samping Mesjid tsb.

Parkir Motor di sepanjang lorong Pelabuhan

Parkir Motor di sepanjang lorong Pelabuhan