Tags

, , , , , ,

Karena suatu keperluan yang mengharuskan kami untuk berangkat ke Batam, Kepulauan Riau dengan menggunakan ‘angkot’ udara yang bernama Lion.

Dari tiket yang kami pesan untuk dua orang seharga Rp 980.000,- tertera bahwa jadwal keberangkatan adalah 11.05 WIB, tapi ketika kami tanya ke resepsionis di ruang tunggu B2, Bandara Sekarno-Hatta, tanpa rasa bersalah mereka mengatakan : ”11.20 WIB Pak”.

Saya menjawab : “Ya, sudah ga pa pa, hanya telat 15 menit kok”.

Pada pukul 10.45 WIB teman saya mencoba konfirmasi kembali ke resepsionis dan menjawab : ” Maaf Pak, pesawat terlambat 45 menit, karena baru mendarat 11.15 WIB”.

Kami pikir paling tidak sekitar pukul 11.45 WIB  sudah bisa take off.

Ya sudah sabar…..

Pukul 11.30 WIB terdengar dari pengeras suara : “Selamat siang, kepada penumpang kami mohon maaf karena keberangkatan anda tertunda selama 45 menit dari sekarang”. 😦    😦    😦 

Penumpang di samping saya nyeletuk : ”Dari tadi kek bilang…”

Tanpa disadari pihak operator pesawat penerbangan di Indonesia menganggap ”delayed” menjadi sesuatu yang lumrah, padahal di negara lain masalah ini adalah sesuatu yang (kalau bisa) diharamkan terjadi.

Di negara kita, kalau tidak delayed orang-orang malah heran : “tumben ga delayed”

Ketika sampai di Bandara Internasional Hang Nadim Batam, teman saya mengatakan bahwa ini adalah :

“Penerbangan tanpa asap rokok dan tanpa air minum” 🙂