Tags

, , , , , ,

Anak kami yang pertama baru saja menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Dasar (SD).
Hari ini Senin (20/06), pukul 10 adalah pengumuman hasil Ujian Nasional (UN), mundur dari rencana sebelumnya yaitu Sabtu, 18 Juni 2011.
Biasanya, urusan sekolah anak-anak (rapat sekolah, konsultasi dengan guru atau sesama orang tua murid, mengikuti acara-acara sekolah dll) apalagi di hari kerja seperti ini, dilakukan oleh Sekretaris Pribadi alias isteri.
Nah, pagi ini juga demikian…………
Menurut saya, hari ini hanya sekedar melihat atau mendengarkan pengumuman hasil UN, saya percayakan kepada Ibu Sekretaris saja.

Insya Allah  anak saya bisa lulus, jadi tidak terlalu khawatir (karena setelah UN selesai, hasilnya dibahas kembali  oleh gurunya dan mereka sudah bisa memperkirakan nilainya berapa)

Kembali kecerita semula…

Setelah pagi ini, saya mulai melakukan kegiatan rutin, ada SMS masuk, seperti ini :

“Pa, liat hasil UN Abang dong di Sekolah ?
Saya  tanya : Jam berapa ?

Dijawab  :

Pengumumannya jam 10 tepat yaa…

Papa datang setengah 10 juga ga pa pa, liat sebentaaarrr…. aja

Pa, Papa bareng sama Mama aja yaa,  Abang ada urusan jadi mau cepet-cepet he3x…..

Ga pa pa kan?  Tapi Mama mau antarin nasi adek dulu”

[kebetulan sekolah adeknya (anak yang kedua) ga jauh dari rumah, jadi mamanya bisa ngantar makanan setiap jam istirahat].

Karena ini permintaan si Jagoan, ya sudah harus saya penuhi…..

Kami sampai di sekolah sekitar pukul 10.05 WIB (belum terlalu terlambat), ketika guru-guru menyampaikan saran-saran untuk mengikuti langkah berikutnya mendaftar ke Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) atau Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kemudian dilanjutkan dengan pengumuman hasil UN…..

Alhamdulillah anak kami mencapai Nilai Ebtanas Murni (NEM) terbaiknya yaitu 27,75 (Dua puluh tujuh koma tujuh puluh lima),  kalau dibagi 3 rata-ratanya adalah 9,25 (Sembilan koma dua puluh lima). Dengan nilai Matematika 9,50 (Sembilan koma lima puluh).

Bagi saya, nilai seperti itu begitu dahsyatnya, karena dahulu (waktu saya sekolah) alangkah sulitnya buat saya untuk mendapatkan nilai 8.

Mungkin tidak begitu dengan orang-orang tua atau anak-anak sekarang, karena nilai 10 dalam sebuah mata pelajaran adalah hal yang biasa….

Walaupun anak kami tidak termasuk  10 besar di sekolahnya, kami tetap bersyukur karena tidak menyangka dapat nilai seperti itu.

Karena begitu susahnya untuk mengajaknya belajar selama ini, kecuali hanya mengikuti (bersama teman-temannya) Bimbingan Belajar (Bimbel). Kami (lebih dari 10 orang tua murid) mengunakan jasa baik salah seorang guru yang berpengalaman untuk melakukan Bimbel, datang ke tempat kami dan mengajar di luar jam sekolah bahkan malam hari, untuk mempersiapkan anak-anak menghadapi UN…..

Tidak lupa kami ucapkan terima kasih juga buat beliau (Pak Guru).

Semoga segala amal Bapak mendapat balasan dari Yang Maha Kuasa……

Advertisements