Tags

, , , , , , ,

Hari Jumat (18/3), sekitar pukul 15.30  WIB, kami dalam perjalanan dari Lenteng Agung menuju Pancoran. Perjalan dari Lenteng Agung sampai Stasiun Kereta Api Tanjung Barat lancar, bahkan jalan menuju Pintu Kereta antara Jl. Simatupang dengan Pasar Minggu juga lancar.

Mendekati underpass Pasar Minggu perjalanan mulai tersendat, karena biasanya Metromini yang akan ke jalur kiri menuju Terminal Pasar Minggu suka ambil jalur kanan , dan sesaat sebelum turunan ke underpass supirnya memaksa untuk ambil jalur kiri.

Kami sudah hafal kalau ada penjual asongan beraksi di sepanjang underpass (jalan) berarti bisa dipastikan jalan tersebut sedang menderita kemacetan yang cukup parah.

Perjuangan pertama sudah kami lewati dan berhasil merayap melewati turunan underpass. Di pertengahan jalan, kami menduga-duga, mungkin terjadi sesuatu atau kecelakaan yang mengakibatkan kemacetan seperti ini.

Kami membutuhkan waktu hampir satu jam untuk dapat melewati underpass yang panjangnya hanya sekitar 100 meter itu.

Ternyata biang keroknya adalah Metromini dan Mikrolet yang keluar dari Terminal Pasar Minggu kemudian jalan pelan-pelan bahkan “ngetem” sambil menunggu penumpang di jalur sebelah kiri, jadi yang bisa dilewati hanya satu jalur (sebelah kanan).

Terlihat bahwa supir/knek Metromini dan Mikrolet tersebut tidak peduli dengan kemacetan yang disebabkan oleh mereka, bahkan penumpang yang naik dan menunggu kendaraan di sepanjang jalan ini juga tidak peduli, bahwa mereka punya andil terhadap kemacetan ini.

Tukang asongan (berjualan di pinggir/tengah jalan) juga tidak peduli, karena disisi lain mereka bisa mengambil keuntungan dari kemacetan ini.

Begitu juga penumpang dari Stasiun Kereta Api Pasar Minggu (yang seharusnya menggunakan jembatan penyeberangan), memaksakan diri menerobos pagar pembatas untuk menyeberang, tidak peduli meskipun membahayakan buat diri atau keluarga mereka sendiri.

Yang lebih parah lagi aparat Kepolisiannya kemana…..?

Saat itu saya tidak melihat seorangpun petugas, kecuali setelah sampai di lampu merah (sebetulnya tidak perlu diatur lagi, karena sudah ada lampu pengatur lalu lintasnya).

Semua orang tau bahwa kebiasaan “ngetem” para pengendara Metromini dan Mikrolet itu, apa mungkin petugas dari Kepolisian tidak tau ? atau memang tidak ……..