Tags

, , , , , , , , ,

Papa sering mengajak saya jalan-jalan di hari libur seperti ke Pantai Padang, Tempat Pelelangan Ikan (TPI) ” Muaro” Padang, berenang di kolam renang “Teratai” salah satu kolam renang yang ada di kota Padang saat itu, ke Bukit “Siti Nurbaya” (Bukit Gunung Padang), atau ke Batu “Si Malin Kundang” di Pantai Air Manis.

Kalau jalan-jalan sore saya sering di ajak mampir minum “cindua” atau cendol “Mak Katik” yang saat itu berada di bekas Lapangan Imam Bonjol sekarang, atau beli gorengan seperti : singkong/ubi/pisang/sukun goreng. Singkong goreng di sini besar sekali sehingga Papa sering menyebutnya dengan goreng “Tongkang“, dan pisang kepoknya diiris-iris dibuat seperti kipas sebelum digoreng.

Cendol kalau di Padang,  dihidangkan dalam satu gelas besar, biasanya di campur dengan “ampiang” atau emping (beras ketan yang ditumbuk tipis) plus parutan kelapa, ketan dan satu/dua biji duren (tentu saja dengan daging durennya juga, bukan bijinya saja 😉 ).

Ada lagi yang unik, ketika orang Padang makan gorengan atau duren, biasanya selalu ditemani dengan ketan hitam/putih beserta parutan kelapanya.

Salah satu kenangan yang saat ini (fotonya) masih saya simpan, dan menjadi kenangan indah yang tak kan pernah terulang lagi, ketika diajak Papa jalan-jalan hari Minggu, kalau tidak salah sekitar tahun 1974 ke Pantai Padang, dengan bersepeda “Phoenix” kebanggaan beliau, sepeda yang selalu bersih dan mengkilat.

Beliau meninggalkan kami semua 7 tahun yang lalu, yaitu pada bulan Februari 2004.

Kami berdua berfoto dengan latar belakang Bukit Siti Nurbaya atau Bukit Gunung Padang (lucu ya, namanya bukit, tapi gunung yang bernama padang 🙂 ).

Yang mengambil gambarnya adalah tukang foto amatir yang banyak berada di sekitar tempat tersebut. Foto ini diantar kerumah seminggu kemudian.

Saya dengan Papa

Saya dengan Papa

Saya masih ingat, bahwa sendal yang saya pakai merk-nya “Lily” 🙂