Tags

, , ,

Membaca berita “detik” siang ini (Rabu, 9 Februari 2011), tentang sebuah kecelakaan yang menewaskan seorang anak Sekolah Dasar (SD) oleh sebuah bis di Mampang, Jakarta Selatan, ber judul “Tabrak Anak SD Hingga Tewas di Mampang“.

Saya teringat ketika belajar di Australia, pengemudi kendaraan sangat berhati-hati apabila mendekati sebuah kawasan sekolah atau banyak anak-anak sekolah di sekitar tempat itu.

Para pengemudi akan segera mengurangi kecepatan kendaraannya.

Saya beberapa kali pernah menanyakan kepada pengemudi kendaraan yang saya tumpangi, kenapa tiba-tiba mengurangi kecepatannya, pengemudi menjawab : “Kita sedang memasuki kawasan sekolah”.

Padahal biasanya kendaraan melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi, karena jalanan mulus dan sepi, jarang berpapasan dengan mobil, maupun kendaraan lain.

Tidak ada polisi di jalan-jalan maupun di perapatan lampu merah yang mengawasi. Tapi para pengguna jalan sangatu patuh dengan peraturan dan sangat menghargai anak sekolah, pejalan kaki, maupun pengguna sepeda.

Jika kita menyeberang jalan, kendaraan yang akan melintas akan berhenti walaupun jaraknya masih jauh dengan kita, dan mereka tidak pernah marah-marah atau mengumpat seperti pengemudi kita, melihat ada orang yang menyeberang di depan kendaraannya.

Biasanya pengemudi kita akan mengurangi kecepatannya, jika melewati komplek Tentara Nasional Indonesia (TNI) atau Polisi.

Hal ini mengingatkan saya, dengan pengalaman teman saya yang melewati Komplek TNI. Perjalanan dari Padang menuju Pekanbaru, waktu itu sekitar jam 3 pagi, jalanan sepi di luar kota lagi, teman saya memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi.

Lupa bahwa akan melewati komplek TNI (biasanya ada rambu-rambu yang menyatakan anda memasuki komplek TNI, kurangi kecepatan).

Di depan jalan, teman saya dihadang oleh petugas TNI berpakaian lengkap menghentikan kendaraannya dengan senjata terhunus. Teman saya disuruh turun dari kendaraan, diperintahkan untuk buka pakaian dan celana (kecuali  celanan dalam), disuruh lari berkeliling dan push-up, kalau ga salah juga direndam di kolam. Setelah hukuman dilaksanakan, baru diizinkan melanjutkan perjalanan kembali….

Mungkinkah pengemudi kita harus dibuat seperti itu dulu, baru patuh dengan peraturan…???

Advertisements