Tags

, , , , , , , , , , ,

Mungkin karena euforia sepakbola di tanah air saat ini, tiba-tiba saya teringat dengan pengalaman saya sekitar tahun 70-an, ketika masih duduk di Sekolah Dasar, waktu mau nonton bola di Stadion ”Imam Bonjol” Padang (sekarang menjadi Taman Imam Bonjol, karena sudah dibangun sebuah Gedung Olah Raga(GOR)  H. Agus Salim).

Bola

Sumber : adityaekanugraha.blogspot.com

Kesebelasan kota Padang saat itu adalah PSP (Persatuan Sepakbola Padang). Banyak pertandingan-pertandingan bermutu yang dilaksanakan di Stadion ”Imam Bonjol” , baik nasional maupun internasional.

Pengalaman saya, sangat berbeda dengan anak saya yang nonton sepakbola di Gelora Bung Karno (GBK), pada Minggu 19 Desember 2010 yang lalu,  saat pertandingan kesebelasanan PSSI “Garuda” dengan kesebelasan Filipina.

Saya belikan 2 lembar karcis di VIP Timur dengan harga @ Rp 260.000 (buat anak saya dan ponakan yang mendampingi). Saya minta bantuan tukang ojek untuk antri kupon atau voucher (belum karcis) di Rajakarcis di Manggarai, dari pukul 8 pagi s/d 12 siang Rp 100.000.

Hari Minggu paginya (sebelum pertandingan dimulai), kita harus antri lagi di tempat yang sama untuk menukarkan voucher dengan karcis (begitu rumitnya memperoleh karcis nonton sepakbola di Jakarta).

Karena takut macet (saya tidk berani mengantar), untuk pergi dan pulang ke GBK anak saya menggunakan taxi plus jajan dan lain-lain dengan biaya Rp 400.000 serta persiapan makanan dan minuman sekitar Rp 150.000.

Jadi total Rp 1.250.000 untuk biaya satu kali nonton sepakbola. Sejak berangkat dari rumah pukul 14 (2 siang) sampai kembali ke rumah lagi pukul 22 (10 malam), artinya membutuhkan waktu 8 jam.

Kembali kepada cerita saya yang pertama, ketika itu saya sudah terbiasa menyaksikan pemain-pemain PSSI terkenal di era 60-70an, seperti Abdul Kadir, Andi Lala, Anjas Asmara, Berty Tutuarima, Iswadi Idris, Junaedi Abdillah, Nobon, Oyong Liza, Risdianto, Ronny Pattinasarany, Rony Paslah, Simson Rumahpasal, Suaeb Rizal, Suhatman Imam, Sutan Harhara, dan Waskito (beberapa sudah almarhum). Serta kesebelasan terkenal seperti Ajax Amsterdam dan PSV Eindhoven dari Belanda, Santos dan Sao Paolo dari Brazil, Kesebelasan Bulgaria, dan Dynamo dari Uni Soviet.

Yang uniknya saat itu adalah untuk masuk stadion, caranya dengan mendekati atau menggandeng Bapak-bapak yang beli karcis tapi datang sendirian, minta tolong agar dibawa masuk melewati pintu pemeriksaan karcis (karena biasanya anak-anak gratis nonton, jika bersama orang tua).

Pak ikut masuk dong……

demikian permohonan yang sering saya ucapkan.

Tapi kadang-kadang ga semua Bapak-bapak mau diganggu, ada yang tidak mau dan berlagak ga dengar alias cuek.  Berarti saya harus mencari Bapak-bapak yang lain, yang bersedia….

Hal ini dilakukan oleh hampir semua anak-anak yang ingin nonton bola saat itu.

Ada kalanya, pemeriksa karcis tidak memperbolehkan saya masuk, karena dianggap tidak mirip dengan Bapak-bapak yang digandeng, berarti bukan keluarganya atau anaknya.

Pergi dan pulang dengan jalan kaki kurang lebih dengan jarak 4 km x 2, yaitu 8 km……

Advertisements