Tags

Setiap ketemu  dan makan Sayur Kangkung atau Tumis Kangkung (apakah sama dengan Cah Kangkung….????), saya selalu ingat ketika masih kecil. Nenek lebih sering masak Tumis Kangkung Balado (karena kami lebih menyukainya), makan nasi hangat mengepul bersama Telur Dadar terus masih ditambah Sambal Goreng Terasi (pokoknya semua serba merah oleh sambal/cabe).

Pagi-pagi sebelum berangkat ke sekolah saya biasanya disuruh Nenek untuk memetik Kangkung di pematang sawah, kebetulan di depan rumah kami di kampung masih di kelilingi sawah dan kebun.

Kangkung yang dipetik adalah kangkung muda yang panjangnya sekitar 10 cm, lembut, segar dan manis, memiliki daun sekitar lima lembar dan kecil-kecil.

Jadi akar kangkung yang sudah dipanen beberapa kali diangkat ditumpuk dengan rapi di sepanjang pematang sawah oleh petani (namanya saya masih ingat Pak dan Bu Kutar), kemudian sawah tersebut ditanam lagi dengan kangkung (bibit) yang baru, sehingga kalau panen kangkungnya besar-besar dan segar.

Sedangkan kangkung yang dipematang sawah lama-kelamaan juga tumbuh dengan pucuk-pucuk yang segar. Inilah yang saya petik dan kumpulkan ………di serahkan ke Nenek untuk di tumis.

Dihidangkan pada saat makan siang bersama-sama ketika kami pulang sekolah.

Kenangan lain adalah panen Jamur Merang untuk dibuat Sayur Tumis Jamur Merang yang kecil-kecil, manis dan segar. Jadi setelah panen padi, potongan batang maupun daun padi (merangnya) ditumpuk dibeberapa tempat, dan paling lama seminggu atau dua minggu kemudian kami sudah bisa memetik Jamur Merang, setiap dua atau tiga hari sekali. Kalau mau menanam padi lagi merang tersebut baru dibakar untuk menambah kesuburan tanah.

Saya dan Nenek selalu memanen pagi-pagi setelah shalat Subuh, di saat matahari baru menampakkan sinarnya di kaki Gunung Talang yang masih kelihatan dari tempat tinggal kami, ketika suasana kampung masih diliputi kabut pagi dan tetesan embun masih betah di dedaunan dan rumput-rumput segar.

Pernah juga disuruh mencari Daun Genjer yang tumbuh di sawah-sawah, untuk di buat ..Gulai Daun Genjer dicampur tetelan atau udang….

Pernah juga disuruh mencari Tangkai Talas Hitam atau Talas Putih yang dikampung kami namanya Kemumu Hitam atau Kemumu Putih, untuk digulai (dengan santan) campur dengan tetelan atau dengan ikan kering namanya Ikan Kering Tukai (Bahasa Minangnya : Lauak Kariang Tukai) yang sebelumnya dibakar terlebih dahulu untuk memunculkan aromanya yang khas.

Tapi harus hati-hati, masakan sejenis talas jangan dimakan lagi panas-panas, biarkan dingin terlebih dahulu, karena bisa mengakibatkan rasa gatal di kerongkongan dan lidah…..

Semua sayur-sayuran yang kami sukai biasanya ditanam oleh Nenek di kebun di samping rumah seperti :

– Rimbang (atau Leuca dalam bahasa Sunda) untuk lalapan

– Sambuang (atau Kecombarang) untuk digulai dan dicampur dengan tetelan/udang

– Pare untuk ditumis kering balado,

– Daun Pucuak Ubi atau Daun Pucuak Parancih (atau Daun Singkong) untuk direbus maupun digulai

– Daun Tapak Leman (atau Daun Mangkok) sebagai campuran ikan gulai dll

– Kemumu Hitam atau Putih (yang saya sebutkan di atas)  untuk digulai dan dicampur dengan tetelan/udang

– Buah Nangka Muda untuk digulai dan dicampur dengan tetelan/udang ,

– Buah Kelawi Muda (atau Keluwih dalam Bahasa Indonesia yang sekilas mirip dengan SUKUN), untuk digulai putih (santan).

Bagi orang Minang (Padang) olahan Buah Nangka Muda atau Buah Kelawi Muda di anggap seperti sayuran

Semuanya siap untuk dipetik kapan saja kami mau.

Begitu juga berbagai jenis bumbu dapur seperti : Kunyit, Ruku-Ruku (sejenis Kemangi), Daun Pandan, Daun Serai, Sereh, Daun Salam, Lengkuas (atau Laos), Jahe ……………..semua ada, tidak usah beli…..

[………….kenanganku bersama alm. Nenek sekitar 1970 s/d 1976 ……….. ]