Tags

Kakak Ipar saya (laki-laki), mantan Dosen Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (UI), seorang dokter gigi, Istri beliau (kakak sepupu) adalah Dosen Universitas Muhammadiyah (dulu) dan terakhir adalah Dosen Pasca Sarjana di Universitas Trisakti dengan seorang anak perempuan Hesti (sudah bekerja), bertempat tinggal di Komplek UI Ciputat.

Karena tempat praktek kakak ipar,  tidak jauh dari komplek perumahan tersebut di atas, maka setiap hari beliau jalan kaki menyeberangi jalan raya untuk sampai di sana.

Senin sore (2 Agustus 2010),  ketika menuju tempat praktek,  tanpa disadari tiba-tiba sebuah motor telah membuatnya tersungkur dan harus digotong ke rumah sakit.

Ada luka di kepala dan harus di jahit (4 jahitan), kemudian malam itu urusan selesai karena beliau mengatakan kepada pihak Kepolisian “Ga usah diperpanjang, kasihan anak dan keluarga yang menabrak. Saya ga apa-apa kok”.

Berarti urusannya selesai dengan damai dan tidak ada tuntutan apa-apa dari korban (kakak ipar saya), si anak yang pakai motor didampingi orang tuanya bersalam-salaman dengan kakak ipar, saling memaafkan. Dan pulang ke rumahnya masing-masing.

Besok pagi (3 Agustus 2010), kakak ipar bangun pagi, shalat dan sebagainya kemudian sarapan bubur ayam, minum obat, kemudian merasa pusing dan muntah……..pingsan…..!!!!

Segera dilarikan ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Fatmawati, kondisinya KOMA dan dokter menyarankan untuk segera operasi , karena ditemukan darah di otak. Tetapi kondisi tubuh beliau semakin drop dan sangat tidak memungkinkan untuk menjalani operasi. Dokterpun tidak berani melakukannya, karena jika operasi resikonya sangat besar dan diperkirakan keberhasilannya hanya 10% …..

Dalam keadaan seperti itu, kakak sepupu saya merasa harus melakukan sesuatu. tidak bisa menunggu. Dia mencari temannya yang juga seorang dokter bedah di Rumah Sakit yang sama, mohon bantuan agar menyampaikan kepada  Tim Dokter untuk melakukan operasi segera dengan segala resikonya. Dan sanggup membuat pernyataan apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, keluarga tidak menuntut apa-apa.

Operasi yang menegangkan dilakukan dari pukul 19.00 sampai dengan 23.50, tidak beda jauh dari perkiraan Tim Dokter yaitu 5 jam.

Satu Ruang Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Fatmawati penuh dengan kerabat yang berharap sambil berdoa agar operasi berjalan dengan sukses dan lancar.

Selesai operasi beliau langsung di dorong menuju Ruang ICU di lantai 2, kami mengikuti dari belakang.

Semoga beliau kuat dan bisa menghadapi masa-masa kritis pasca operasi. Semoga Istri dan anak beliau juga tabah menghadapi cobaan ini….Amiiinnn…

Pukul 00.10 saya pamitan untuk pulang, karena besok pagi tugas dan tanggung jawab sudah menunggu…………….