Tags

Saya mengobati dan menutupi luka kecil dengan daun singkong yang dikunyah terlebih dahulu kemudian di tempelkan ke tempat yang sakit.

Saya mencari dan memanjat pohon kapuk randu, mencuci, memerasnya dengan  air hangat, kemudian meminumnya untuk meredakan ketika suhu tubuh meningkat karena demam, atau pun ketika saya merasakan bibir pecah-pecah karena  “panas dalam.”

Saya membuat sendiri cincau hijau dengan memetik daun “kaca piring” (biasa digunakan untuk pagar rumah di kampung saya), dicuci, diperas dengan air hangat, kemudian didiamkan beberapa jam untuk sekedar menikmati minuman cincau.

Saya membuat mobil-mobilan dengan rodanya dari sendal jepit bekas atau dari kulit jeruk bali, memotong bambu sebagai rangkanya kemudian mengikatnya dengan benang atau karet.

Saya bermain perang-perangan dengan sejata pelepah daun pisang yang dibuat seperti senjata.

Saya mencari bambu pagar dan memotongnya menjadi dua bagian untuk membuat tembak-tembakan dengan peluru dari putik buah jambu.

Saya membuat meriam dari bambu, menggunakan karbit, setiap dan selama bulan puasa (Ramadhan) datang.

Saya membuat obor sendiri untuk persiapan ngaji, karena jalan menuju ke lokasi ngaji tidak ada penerangan.

Saya bermain lempar batu atau kaleng.

Saya membuat layangan sendiri.

Saya bermain engrang batok kelapa, dengan membersihkan dua batok kelapa yang dihubungkan dengan  tali (plastik/rafia). Tapi saya tidak bisa bermain engrang dari bambu atau kayu yang lebih tinggi.

Saya mendaftar sendiri ketika masuk SMP, SMA dan ketika masuk Perguruan Tinggi…………………………

Bagaimana dengan anak-anak (kita) generasi sekarang…???? masih adakah yang begitu ….????

Advertisements