Saya setuju dengan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), yang menyatakan bahwa Penyiaran Infontainment di Stasiun Televisi di Indonesia tidak ada unsur pendidikannya. Biasanya hanya menceritakan aib orang lain, yang selalu diulang berkali-kali, dari pagi sampai malam, dibahas begitu mendalam, tanya sana sini, bahkan dari sumber yang tidak jelas. Sangat tidak mendidik dan tidak ada nilai tambahnya.

Begitu juga sinetron yang ditayangkan, sebagian besar bernada kekersan, kecurangan, keculasan, iri, dengki, perebutan harta warisan, perselingkuhan, pamer kekayaan, pamer kemewahan, pamer paha……dan macam-macam lagi yang negatif. Bayangkan kalau itu ditonton oleh anak-anak. Dimana mereka belum bisa membedakan apakah itu hanya sebuah tontonan ataukah terjadi dalam kehidupan nyata.

Stasiun TV boleh saja membuat peringatan dengan kode-kode tertentu BO (Bimbingan Orang Tua) dll, tapi apakah itu jaminan dipatuhi oleh anak-anak. Yang ada orang tua harus selalui ribut dengan anak-anaknya, jangan menonton infotainment atau sinetron. Terus apalagi yang mau ditonton anak-anak, karena acara untuk anak-anak hanya sebagian kecil dari program stasiun ybs. Hanya sebagian kecil yang benar-benar bermanfaat untuk membangun kecerdasan dan moral bangsa.

Stasiun TV boleh saja bilang bahwa itu tanggung jawab orang tua masing-masing, bukan tanggung jawab mereka. Mereka harus bekerja dan mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya, dengan ratting yang tinggi, dengan alasan atas permintaan pemirsa. Tapi pemirsa yang mana….???? Benarkah….?????

Terlepas dari itu, setelah berjalan bertahun-tahun dan begitu lama baru Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) atau Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) seperti  tersentak dan baru tau, kemudian ramai-ramai saling mendukung, menyatakan bahwa semua itu perlu disensor….

Dan KPI merencanakan akan menyensor….!!!!!!!

Pelaksanaannya walllahualammm….