Nenek Maryam (biasa dipanggil Cik Ani atau anak dan cucu beliau sering memanggil Ani) adalah seorang yang sangat kreatif. Beliau senang mengumpulkan potongan kain yang sering di bawa Papa. Papa Yusuf bekerja di Pabrik Textil bagian Quality Control, sehingga jika ada sarung yang rusak atau cacat harus dipotong dan dipisahkan. Kemudian ada sebagian yang di bawa pulang.

Beberapa yang ukurannya lebih lebar oleh Nenek dijadikan PIYAMA untuk cucu-cucu beliau, sehingga saat itu saya dan tiga orang adik, setiap selesai mandi sore langsung pakai piyama.

Nah, yang uniknya berbagai jenis dan corak kain-kain potongan (biasa disebut kain perca), oleh Nenek juga diolah dan dibentuk menjadi segitiga atau kotak, besar dan kecil mengikuti pola yang sudah dirancang oleh Nenek.

Kain Perca yg sudah dijahit

Kain Perca yg sudah dijahit

Sehingga setiap hari setelah makan siang, Shalat Zuhur dan istirahat siang, sambil menunggu shalat Ashar, kegiatan Nenek selalu memotong kain-kain mengikuti polanya, kemudian setelah selesai dan cukup potongan kain-kain tsb dijahit. Hal ini bisa membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk berubah wujud kain perca menjadi sebuah SAJADAH.

Bahkan sampai dibuat menjadi TABIR, yaitu kain yang menutupi dinding rumah (dalam adat Minangkabau) digunakan ketika acara pesta pernikahan. Dapat dibayangkan betapa lamanya waktu dan banyaknya potongan kain yang dibutuhkan untuk menciptakan sebuah TABIR, bahkan beberapa buah TABIR.

Sajadah-sajadah karya atau buatan tangan (handmade) Nenek ini kemudian dihadiahkan ke semua anak-anak dan cucu beliau. Jadi setiap sajadah yang dibuat sudah ada tujuannya, yang ini untuk cucu A dan yang lain buat cucu  B.

Sampai sekarang setelah enam tahun beliau meninggalkan kami, kami masih bisa menggunakan hasil karya (hand made) beliau untuk melaksanakan ibadah shalat………

Alhamdulillah ………..semoga pahalanya selalu mengalir kepada Nenek di alam sana. Amiinnnn…………………

Sajadahku Handmade Nenek

Sajadahku Handmade Nenek

Advertisements