Bemo

Bemo

Ternyata siklus itu terus berputar, ingat ketika kelas satu SMA 30 tahun yang lalu (sekitar tahun 1980). Saya selalu naik bemo untuk transportasi pergi dan pulang sekolah. Baru setelah kelas dua SMA saya menggunakan kendaraan roda dua, sehingga bemo sudah menjadi kendaraan alternatif.

Nah sejak dua bulan yang lalu sampai paling kurang satu tahun kedepan mungkin saya akan masih setia dengan kendaraan BEMO ini, dengan alasan bahwa hanya BEMO kendaraan yang paling murah (hanya Rp 2.000), dibandingkan dengan OJEK (Rp 100.000) atau BAJAJ (Rp 7.000), dan membawa saya dari Stasiun Kereta Api Manggarai ke Salemba tempat kegiatan saya pada sore dan malam hari.

Jadi ketika saya turun dari kereta api di Stasiun Manggarai, keluar stasiun kemudian menunggu BEMO yang trayeknya Pasar Raya Manggarai – Jl. Tambak – Jl. Proklamasi – RSCM – Salemba – Matraman dan kembali lagi ke Stasiun Manggarai.

Bau asap knalpot BEMO yang khas (menyengat dan membuat perih dimata) selalu mengikuti perjalanan. Inilah kekurangan dari BEMO yang kayaknya sudah tidak cocok lagi dengan keadaan yang sekarang, membuat lingkungan semakin sumpek. Hampir sama dengan hal ini adalah “BAJAJ”. Mungkin ini adalah salah satu alasan kenapa kedua kendaraan alternatif ini semakin terpinggirkan.

Buat pengemudi BEMO, mengisi bensin “ketengan” sudah menjadi hal yang lazim, dengan galon. Pada waktu mengisi bensin sebelumnya dicampur dulu secara manual dengan oli, baru di masukkan menggunakan corong ke tanki BEMO.

Pada waktu pulangnya saya menggunakan BAJAJ, bersama teman-teman, karena BEMO sudah tidak ada setelah pukul 8 malam, menuju Stsiun Kereta Api Manggarai …………….

STKA Manggarai

STKA Manggarai