Home > Beranda, Wisata > PENGAMEN DI INGGRIS

PENGAMEN DI INGGRIS

Di salah satu sudut stasiun kereta api bawah tanah (underground station) Victoria di London, kami ketemu dengan seorang pengamen atau penyanyi jalanan.

Pengamen ini bernyayi menggunakan bantuan alat musik gitar. Di stasiun yang lain kami juga pernah berjumpa dengan pengamen dengan alat musik harmonika, accordion atau saxophone.

Oh ya, di Inggris pengamen di stasiun kereta api bawah tanah disebut juga dengan “Buskers”.

Untuk menjadi pengamen di sini tidak gampang, mereka mempunyai izin resmi setelah melalui seleksi dalam suatu pemilihan (idol). Lisensi ini juga harus diperpanjang setiap tahun.

Bercerita mengenai penonton di Inggris, agak berbeda dengan penonton kita di Indonesia. Para penonton  yang menikmati sajian musik dari pengamen, tidak sungkan-sungkan ikut bernyanyi atau bermain musik bersama, bahkan menari bersama.

Menyenangkan sekali melihat penampilan pengamen-pengamen ini, karena kualitas suaranya tidak kalah dengan penyanyi-penyanyi terkenal, katanya beberapa penyanyi top pernah menjadi pengamen di stasiun seperti ini.  

Koin dari penonton biasanya di taruh di tas gitarnya yang sudah terbuka…

Escalator menuju stasiun bawah tanah

Escalator menuju stasiun bawah tanah

  1. 17 February 2012 at 22:04 | #1

    Pengamen di Inggris Punya SIM … ???
    wwwaaaaa … keren banget nih …
    sehingga kualitasnya bisa dipertanggung jawabkan … walaupun ngamen tetapi sisi seni musiknya masih terjaga dengan baik …

    (jadi kebayang … segeh tepeseee eke menyenye …mengerepken tewwen bemere hete )(pengamen di Indonesia menyanyi nggak niat … tidak membuka mulut sama sekali … macam orang nggrundel gak jelas ….)(pake kecrekan pula)

    Salam saya

    (syair sebenarnya adalah … “Sungguh terpaksaaaaa … aku menyanyiiiii … mengharapkan tuan … bermurah hati ….dst )

  2. ded
    17 February 2012 at 22:25 | #2

    Ha3 saya harus membacanya dua kali Om, baru ngerti maksudnya.
    Apalagi setelah diartikan di bawah.
    Tadinya saya pikir lagunya Om NH berbahasa apa ? :)

    • 18 February 2012 at 13:05 | #3

      Hahaha … maap Uda …
      itu adalah syair lagu dangdut dari Rhoma Irama …
      Judulnya saya lupa … kalau tidak salah judulnya “Terpaksa” …
      (menceritakan kisah derita seorang pengamen).
      Ini lagu dangdut yang bagus … dan saya suka …

      Tapi saya suka kesal … jika lagu bagus ini dinyanyikan secara semena-mena dan asal-asalan oleh pengamen … jadi nggak enak lagi deh kedengarannya …

      Salam saya Uda

      • ded
        18 February 2012 at 20:52 | #4

        Benar Om, lagu ini sangat digemari oleh para pengamen. Tapi sayangnya seperti kata Om, dinyanyikan asal-asalan, yang penting bunyi ….
        Kalau dengar lagu Oma Irama seperti ini, saya ingat masa kecil Om. Saat itu ada bioskop yang selalu memutar lagu-lagu Oma sebelum filmnya di putar. Setiap malam….. :)

  3. 17 February 2012 at 22:53 | #5

    Dahsyat. Seperti di Singapura. :)
    Kira2 dari penghasilan mereka ngamen, cukup gak ya untuk hidup sehari-hari?

    • ded
      18 February 2012 at 20:56 | #6

      Mungkin untuk materi atau untuk hidup ga cukup Mas, tapi untuk mengasah kemapuan sih ok….. :)

  4. 18 February 2012 at 23:20 | #7

    jadi pengamen saja seleksinya minta ampun ya… gak kayak indonesia ngamen karena desakan ekonomi.. jadi kebanyakan suaranya pas-pasan.. :D

    • ded
      18 February 2012 at 23:49 | #8

      Karena diseleksi dan mempunyai lisensi jadi mutu pengamen ini bisa terjamin, bahkan suatu saat nanti mereka diharapkan menjadi seorang penyanyi tenar…. :)

  5. 19 February 2012 at 15:30 | #9

    Jadi inget sama Sandhi Sandoro yang dulunya ngamen di Jerman, sekarang sih sudah jadi musisi internasional..

    • ded
      19 February 2012 at 20:11 | #10

      Uamumnya mereka menjadi orang-orang yang sukses, karena mereka memang memulainya dari bawah… :)

  6. 19 February 2012 at 20:53 | #11

    kalau di sini seringnya ketemu pengamen spt itu di pasar mingguan pak, atau di tempat wisata
    keren juga ya pengamennya :D

    • ded
      20 February 2012 at 09:33 | #12

      Kalau ngomong tentang Suday Market saya ingat di Australia Mb, hambir tiap minggu saya ke sana, karena senang beli buah-buahan dan sayur yang segar-segar….. :)

  7. 20 February 2012 at 01:00 | #13

    waw mantap
    di seleksi pula :)

  8. 20 February 2012 at 15:48 | #14

    Pengamennya kayak yang di singapura ya, suaranya bagus-bagus, alat musiknya juga, dan harus ada ijinnya juga. Keren. Saking negaranya udah mapan banget, sampe soal pengamen dan masa depannya dipikirin ya pak :)

    • ded
      20 February 2012 at 20:35 | #15

      Mudah2an suatu saat nanti negara kita bisa sampai ke taraf seperti itu :)

  9. Mrs_Lair4ever
    21 February 2012 at 21:40 | #16

    Great pictures, Ded :-)
    Saya tinggal di kota kecil dan hampir tidak ada transportasi umum.
    Sudah lama tidak lihat pengamen disini.
    Enak juga ya ada hiburan gratis sambil nunggu kereta.
    Apakah kamu menaruh uang (donation) utk pengamen ini?

    • ded
      21 February 2012 at 21:59 | #17

      Ya Lair, enak sekali nyanyi sambil goyang sama2.
      Oh ya karena senang dan merasa terhibur, pasti donasinya tidak lupa. Karena hampir semua yang menonton ikut menaruh uangnya di tas gitar si pengamen… :)

  10. 22 February 2012 at 17:19 | #18

    Hai,,

    Sorry udah lama gak berkunjung kemari lagi,,
    oya sekalian mau bilang, alhamdulilah aku udah punya domain sendiri,
    kalau ada waktu berkunjung ya di blog aku yang baru disini :

    http://blog.enterspasi.com

    Thanks

  11. ded
    25 February 2012 at 06:50 | #19

    Terima kasih Meidhy :)

  12. 29 February 2012 at 06:11 | #20

    Lokasi mengamennya sangat bersih. Sangat sopan saat memainkan musik sehingga membuat pengunjung mau berbagi. Salam…..

    • ded
      29 February 2012 at 08:03 | #21

      O ya Mb, salah satu perbedaan yang dapat kita saksikan selama ini di Tanah Air. Meskipun di daerah kita juga ada pengamen yang sopan, tapi ketutup sama pengamen yang lebih banyak brtampang sangar dan terkesan memaksa…. :)

      • 29 February 2012 at 08:30 | #22

        Betul itu aku saksikan sendiri saat naik angkutan umum di ibukota. Setengah memaksa mereka minta uang. Jika tidak diberi langsung marah-marah. Terkadang mereka menggunakan aksi seperti pemain debus, menyilet lidah sendiri, agar penumpang miris, lalu memberikan uang.
        Aksi begini belum kena batunya. Jika ada penumpang yang punya kemampuan menjadikan silet tetap tajam, celakalah dia…..

      • ded
        29 February 2012 at 10:45 | #23

        Ya Mb Arum, itu realita hidup kita di ibukota sehari-hari yang masih belum tersentuh peradaban. :)

  13. 29 February 2012 at 15:16 | #24

    i love ur post, keep share^^
    mampir balik ke website kami yaa…
    berbagi pada sesama dengan mengunjungi http://hapeduli.hajarabis.com/

  14. 29 February 2012 at 15:35 | #25

    nice :)
    saya senang mengikuti postingan anda
    postingan yang menarik .

    salam kenal yya dan sempatkan mampir ke
    website kami.

  15. 9 March 2012 at 16:35 | #27

    Saya pernah juga lihat pengamen di Aussie, di Sydney, keren ya pengamen di luar negeri. Sambil jualan CD dia … lagu-lagunya juga ciptaan sendiri. Pokoknya keren, makanya saya beli juga 1 bh, 5 dolar-an ….

    • ded
      9 March 2012 at 17:11 | #28

      O ya Mas, pengamen nya juga jual CDnya sendiri, senang melihat kreativitas mereka…. :)

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.