PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA

Tags

, , , ,

Pancasila adalah Dasar Negara Republik Indonesia tercinta sungguh tidak diragukan lagi. Telah terbukti dan telah teruji, berpuluh-puluh tahun sejak diundangkannya pada 18 Agustus 1945 dalam sidang Pantia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Pengesahan Pancasila sebagai Dasar Negara termaktub dalam Pembukaan Undang Undang Dasar (UUD) 1945 alinea ke-4, yang menegaskan keberadaan sila-sila Pancasila yaitu :

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa
  2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
  3. Persatuan Indonesia
  4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
  5. Keadilan Sosial Bagi seluruh Rakyat Indonesia

Kalaupun akhir-akhir ini ada kebingungan masyarakat tentang isue 4 Pilar, yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI ternyata sudah terbantahkan oleh keputusan Mahkamah Konstitusi, karena konsep tersebut tidak mempunyai landasan yang kuat, apalagi tidak didukung oleh kajian akademis.

Keputusan MK atas gugatan judicial review terhadap penggunaan frasa “Pilar” untuk Pancasila dalam konsepsi 4 Pilar Kebangsaan bertentangan dengan UUD 1945.

Kenapa tiba-tiba saya membahas Pancasila ?

He3 …. sempat tegang ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) melakukan telewicara dengan anak-anak di Sentani, Papua melalui TV, ternyata anak yang diminta untuk menyebutkan ke-5 sila dalam Pancasila bisa melakukannya degan baik dan benar, sehingga Presiden berkenan mengirimkan sepeda sebagai hadiahnya.

PENTINGNYA KOMUNIKASI DAN INFORMASI

Tags

, ,

Ada tiga orang bersaudara sebut saja namanya A, B dan C, yang tinggal di tiga tempat berbeda.

Suatu ketika C dan B mau ke suatu tempat, mendengar berita tersebut A ingin ikut juga (bareng), karena memang A berencana mau ke tujuan yang sama.

Sehari sebelumnya A menyampaikan kepada C bahwa janjian akan menunggu di Tempat-1.

Singkat kata, pada hari H, B datang ke rumah C dan pukul 7.30, keduanya berangkat menuju Tempat-1.

**

Dalam waktu 5 menit kemudian…..

Ternyata A juga sampai ke rumah C, sementara B dan C sudah berangkat menuju Tempat-1 (sesuai perjanjian sebelumnya).

Orang-orang di Rumah-C merasa heran, kok A datang ke Rumah-C.

“Loh, bukannya janjian ketemu di Tempat-1 ?”

C : “Ga kok, kan tadi sudah dipesankan ke B, bahwa saya akan ke sini”

Terjadi misunderstanding…!!!

**

Untungnya jalan menuju ke Tempat-1 agak macet sehingga perjalanan B dan C baru berkisar 1 km dari Rumah-C. Terpaksalah keduanya menunggu A di Tempat-2.

Ternyata entah apa sebabnya, tiba-tiba sebelum berangkat A berpesan kepada B agar menunggu di Rumah-C saja (tidak di Tempat-1).

Sementara B menyangka terjadi perubahan tempat menunggu menjadi Tempat-1.

Kesimpulannya :

  1. A berkata kepada C akan menunggu di Tempat-1, tetapi membatalkannya kepada B.
  2. Kesalahan terjadi pada A, karena seharusnya A merubahan tempat pertemuan tsb langsung kepada C tidak melalui B, sehingga tidak terjadi salah persepsi.
  3. A tidak boleh menyalahkan B (dianggap tidak menyampaikan pesan), karena B mengira bahwa A sudah konfirmasi dengan C, sehingga B merasa tidak perlu membahas hal tsb dengan C.

TETANGGA KOK GITU

Tags

, ,

Ini adalah curhatan sahabat saya (sebut saja namanya ANDI) tentang 3 tetangganya, sehubungan dengan Andi dan keluarganya yang baru pindah (± 1 tahunan) ke sebuah komplek perumahan sederhana:

TETANGGA 1

Isteri Tetangga 1 (53 tahun), tidak pernah senyum. Sebagai yang lebih muda dan orang baru di komplek tsb Andi dan isterinya sudah mencoba untuk bertegur sapa atau senyum terlebih dahulu. Entah apa sebabnya (mungkin sudah bawaan ?) si Ibu tidak menjawab, hanya memandang dengan wajah datar, dingin dan tanpa ekspresi, seperti tidak mendengar sapaan Andi dan isterinya.

Setelah peristiwa itu, Andi dan isterinya kapok untuk tegur sapa lagi, sehingga setiap ketemu Ibu Tetangg 1, Andi/isteri akan cuek beibeh, pura-pura ga lihat (memandang ke tempat lain).

Cerita Andi tentang jemuran :

Salah satu ujung tali jemuran Tetangga 1, ditambatkan ke rumah Andi, Ibu Tetangga 1 bilang ke Asisten Andi : “Sebelum kalian tinggal di rumah ini, jemuran saya sudah begini”.

Artinya Andi/istri tidak berhak keberatan atas tali jemuran yang memasuki wilayahnya, apa lagi klo Andi mau melarangnya.

Ibu Tetangga 1 akan memindahkan jemuran Andi kalau merasa terganggu, meskipun itu tali jemuran Andi sendiri.

Kalau Andi/isteri kebetulan ketemu Ibu tsb, Si Ibu akan selalu memperhatikan detail (ngelihatiiiinn aja) apa yang dilakukan Andi/isterinya #kayak orang bloon ya dia#.

Sampai saat ini Andi masih meminta isterinya agar bersabar dengan kondisi tsb, anggap saja ga ada orang, atau anggap saja Ibu Tetangga 1 orang bodoh. “Lagian ga ada gunanya melawan orang seperti itu, kalau ribut-ribut kan kita yang malu. Yaa yang waras ngalah,”  kata Andi.

Tetangga 3 adalah seeorang karyawan kantor yang ngontrak di rumah sebelah, karena masih sendiri dia jarang menggunakan jemurannya.

Istri Andi minta ijin kepada Tetangga 3 agar bisa memakai jemuran tsb, kalau kebetulan lagi bayak cucian.

Eeeh Ibu Tetangga 1 juga ikut-ikutan memakainya, “He3…. yang minta ijin siapa yang menggunakan siapa ?”

Sehubungan dengan jemuran yang sharing ini, Ibu Tetangga 1 kembali memperlihatkan kepongahannya. Biasanya seminggu sekali dia mencuci dan menjemur handuk 5 lembar sekaligus. Lucunya pada saat menjemurkan, handuk tersebut di bentangkan memanjang atau kadang-kadang memakai dua tali jemuran sekaligus (bukan seperti biasa).

Bayangkan 5 handuk dijemur sekaligus memanjang, kalau satunya 1 meter x 5 berarti 5 meter.

Habis tuh semua tempat jemuran dikuasainya….!!!

Kalau isteri Andi sebelumnya sudah menjemur pakaian, terus terjatuh akibat Ibu Tetangga 1, pasti dibiarin saja, ga akan dibantu memberi tau atau dibantu menjemurkannya lagi.

Paling parah klo Ibu tetangga I menjemur ikan kering atau ikan asin, ga peduli dekat dengan pakaian Andi, tentu saja pakaian Andi akan bau ikan asin dibuatnya.

Meskipun demikian Andi masih bilang ke istrinya “Ya udah, jemuran kita saja yang digeser agar tidak bau ikan asin”.

Begitulah kehidupan mereka sehari-hari…..

Ternyata feodalisme terselubung masih ada di negeri ini…… he3

TETANGGA 2

Tetangga 2, Suami/Isteri ini seperti orang ga punya kerjaan. Misalnya Andi atau isterinya mencuci kendaraan, suami/isteri tsb akan komentar : “Udaahhh jangan dicuci terus, ntar lecet…”.

Atau Ibu Tetangga 2 komentar kepada isteri Andi : “Kalau ada lomba kebersihan mobil, pasti Ibu Andi juara nih”.

Kalau Andi kedatangan saudara, kadang-kadang juga ikut membantu membersihkan kendaraan Andi, pasti suami/isteri tsb komentar yang sama, dan itu selalu disampaikan kepada siapa saja saudara Andi yang sedang membersihkan kendaraan Andi.

Padahal, suami/isteri Tetangga 2 ini kehidupannya lebih mapan dibandingkan Andi sebagai keluarga baru, mereka punya kendaraan lebih banyak dari Andi, pasti merekalah yang lebih sering mencuci mobil dari Andi.

Meskipun demikian Andi sekalipun tidak pernah berkomentar tentang hal tsb.

Sejauh ini Andi selalu mengatakan kepada istrinya : “Positive thinking saja, mungkin mereka hanya sekedar bercanda”.

Tapi kadang-kadang Andi juga membatin, apakah Tetangga 2 iri ? (ga mungkin), atau mereka merasa “Gua aja yang lebih hebat, ga gitu-gitu amat. Mobil jelek saja bolak-balik dibersih in”

TETANGGA 3

Tetangga 3 sudah saya singgung di atas, dia adalah seorang karyawan, baik hati, masih sendiri, cuek, tidak banyak omong, tidak reseh, pergi pagi pulang malam, jadi kita jarang ketemu.

***

Mohon saran dari para pembaca.

Bagaimna cara mengatasi sikap Tetanga 1 dan Tetangga 2 ? Karena Tetaangga 3 no problem.

Apa yang sebaiknya dilakukan oleh Andi dan istrinya ?

Terima kasih.

KURANGNYA RASA TERIMA KASIH

Tags

, ,

Sejak Akhir Tahun 2013 yang lalu, kendaraan yang lewat Jalan Raya Alternatif Cibubur (Transyogi)  yaitu kendaraan yang berasal dari kawasan Cileungsi, Cikeas, atau Jonggol menuju Jakarta sudah dapat melewati terowongan (underpass) Cibubur, kemudian bisa  langsung masuk ke pintu tol Cibubur.

Padahal sebelumnya kendaraan-kendaraan tsb harus melewati Mall Cibubur Junction, dimana kemacetan sering terjadi akibat pertemuan arus lalu lintas dari Jakarta yang akan ke Cimanggis dan dari Cibubur.

Kemacetan akan semakin parah, pada hari-hari libur akhir pekan, Sabtu atau Minggu…!!! Kemacetan bisa “mengular” sejak dari kawasan Cibubur hingga pintu tol Cibubur yang mengarah ke Jagorawi, sehingga para pengendara harus antri cukup panjang karena padatnya kendaraan.

Dengan semakin meningkatnya jumlah pemilik kendaraan di Cibubur dan sekitarnya, maka underpass ini diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk mengatasi kemacetan di kawasan ini.

***

Karena, saya mau ke Pondok Indah Mall (PIM), maka saya harus keluar di Pintu Tol Pondok Indah menuju Tol T.B. Simatupang.

Seperti biasa, pintu keluar tol Pondok Indah cukup padat, kami menggunakan salah satu jalur Gardu Tol Otomatis (GTO) dari dua jalur GTO yang tersedia di pintu tersebut.

e-toll dapat digunakan sebagai alat pembayaran tol secara non-tunai yang praktis mudah dan cepat.

e-toll  ternyata bermacam-macam, ada e-money, e-toll Pass, e-tol Card, Kartu Flazz, Mega Cash mungkin banyak lagi yang lain. 

Sedangkan yang saya punya adalah e-money, biasa saya gunakan hanya di GTO. 

Namun penggunaan e-toll ini sangat membingungkan, pasalnya saya pernah ditolak karena masuk di salah satu pintu tol otomatis di Cengkareng. Padahal harusnya kartu e-toll apapun, bisa digunakan di pintu tol manapun juga….!!!

Sudahlah….!!! Runyam…!!!

***

Di depan kami hanya ada dua kendaraan di jalur “biasa”, sementara di sebelah kiri/ kanan kami penuh dengan kendaraan yang antri.

Tiba-tiba sebelum masuk ke jalur GTO satu kendaraan di bagian depan, langsung ambil jalur ke kiri (jalur biasa), mungkin memang tidak punya kartu GTO tetapi ingin mau menerobos (nyelak) antrian. Sementara kendaraan Avanza (berplat nomor D) di depan saya tetap melaju dengan tenang menuju Mesin GTO, kami mengiringinya pelan-pelan di belakang, diikuti oleh dua kendaraan lain setelah kami.

Sesampainya di Mesin GTO, pengemudi   Avanza beserta penumpang (kelihatan seperti rombongan Ibu-ibu pengajian) “celingukan” seperti orang kebingungan, membuka kaca lihat kanan kiri dan lihat belakang, melambai-lambai, namun tidak satupun petugas yang memperhatikan.

Saya menduga pasti Avanza tersebut tidak punya Kartu GTO, saya biarkan beberapa saat, sementara mobil di belakang saya sudah mulai tidak sabaran dan membunyikan klakson…

Akhirnya saya turun dari kendaraan dengan membawa kartu GTO (yang saya punya), dari pada kelamaan, lebih baik saya bantu saja mereka.

Saya dekatkan Kartu tsb ke Mesin GTO, sementara driver dan semua penumpang memperhatikan apa yang saya lakukan, kemudian dengan serta merta  “Tiang Penghalang  Pintu Tol” segera terangkat. Driver dan penumpang, lega dan terlihat senang, sehiingga Avanza bisa keluar dari kepanikan.

Dan…..dengan serta merta pula mobil dan penumpang  itu langsung tancap gas, melaju dengan kencang,tanpa sepatah katapun ucapan terima kasih dari mulut mereka.….!!!

Anak-anak saya protes “Kok orang itu begitu ya Pa, ga punya rasa terima kasih? Padahal sudah dibantu ?” 

Saya bingung menjawabnya, karena saya selalu mengajarkan kepada anak-anak “Sudah selayaknya kita mengucapkan terima kasih kalau diperlakukan dengan baik oleh seseorang, atau merasa mendapat bantuan dari orang lain”.

Sekarang, di alam nyata, mereka melihat, menyaksikan dan merasakan hal yang bertolak belakang dengan apa yang saya ajarkan itu…!!!

Meskipun, sebetulnya Avanza tsb bisa menepi dan berhenti sejenak atau memperlambat kendaraannya sambil melambaikan tangan, sebagai pertanda ucapan terima kasih.

Itupun sudah cukup, tidak perlu juga dengan mengembalikan biaya tol yang dipakainya…!!!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 522 other followers